Share

Bahagia Belum Tentu Tak Alami Penyakit Mental Loh, Kenali Dulu 3 Indikatornya

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Sabtu 01 Oktober 2022 17:09 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Posting di Medsos. (Foto: Shutterstock)

MEDIA sosial memang menjadi tempat seseorang berbagi kegiatan mereka. Tapi, banyak orang yang berpura-pura di media sosial. Mereka yang memposting momen bahagia, terkadang tidak sebahagia yang terlihat.

Memang, perasaan bahagia wajar dirasakan ketika seseorang berlibur. Sayangnya, tidak jarang juga yang masih terbawa pikiran kerja atau permasalahan hidup meskipun tengah berlibur.

Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) dr. Jiemi Ardian, SpKJ mengatakan sehat jiwa bukan hanya tentang perasaan bahagia, tapi juga kemampuan seseorang dalam mengatasi tekanan hidup hingga berkontribusi pada komunitas di sekitar mereka.

"Sehat jiwa adalah keadaan sejahtera secara mental yang memungkinkan seseorang mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan mereka, bekerja dan belajar dengan baik, dan mampu berkontribusi pada komunitas," kata Jiemi dalam acara bincang-bincang kesehatan mental seperti dilansir dari Antara.

Stres

"Tidak ada harus selalu bahagia. Jadi, lebih kepada keseluruhan kehidupan, bukan sekadar perasaan (bahagia)," tambah dia.

Dengan demikian, dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) itu mengatakan bahwa untuk mengetahui apakah seseorang mengalami masalah kejiwaan dapat dilihat dari tiga kondisi yakni distress (penderitaan), disability (ketidakmampuan), deviance (pergeseran), dan danger (perilaku berbahaya).

Menurutnya, distress mungkin tidak terlihat dari luar. Tapi, seseorang yang mengalaminya akan merasakan penderitaan di dalam jiwa yang bisa saja menyebabkan masalah kesehatan.

"Mungkin kita senyum dan bahagia-bahagia saja, tapi kita bisa merasakan penderitaannya di dalam. Yang sedang dilakukan kok enggak menyenangkan. Bahkan mungkin terasa di tubuh seperti GERD atau migrain," katanya.

Ia melanjutkan, kondisi lainnya yakni disability menyebabkan seseorang tidak mampu melakukan aktivitas seperti biasa bahkan tidak mampu merawat diri sendiri. "Yang dulunya dandan jadi enggak dandan, dulunya rajin mandi jadi malas mandi, dulunya rapi jadi berantakan. Misalnya begitu," ujarnya.

Sementara deviance dikatakan Jiemi adalah adanya pergeseran atau perbedaan dari hal-hal yang umum dilakukan. Misalnya, saat seseorang tidak bisa tidur sampai berhari-hari atau menjadi tidak sanggup untuk ke luar rumah dan bertemu banyak orang.

Sedangkan danger, lanjut dia, adalah perilaku berbahaya. Dalam hal ini, biasanya seseorang yang mengalami masalah kejiwaan kerap berpikir untuk menyakiti diri sendiri. "Selain itu juga ada pikiran untuk menghilang. Misalnya boleh enggak hari besok itu enggak ada. Nah, ini adalah tanda bahaya, menginginkan kehilangan," kata Jiemi.

Menurut dia, jika mengalami setidaknya dua dari tiga tanda-tanda tersebut maka patut diwaspadai bahwa seseorang sedang tidak baik-baik saja. Namun, perlu diingat bahwa seseorang tidak bisa mendiagnosis diri sendiri sehingga jika mengalami tanda-tanda tersebut, dia menganjurkan untuk mencari pertolongan profesional.

"Tapi, enggak harus kita mengalami dua dari empat itu dulu kok. Kalaupun hanya mau konsultasi, ingin mengembangkan diri, atau sekadar mengenali pola-pola yang bermasalah untuk mencegah masalah selanjutnya, boleh ke psikolog klinis," tutup Jiemi.

1
2