Share

Eklampsia : Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, dan Pengobatan

Destriana Indria Pamungkas, Jurnalis · Jum'at 30 September 2022 14:35 WIB
$detail['images_title']
Gangguan Kehamilan (Foto: Shutterstock)

EKLAMPSIA merupakan komplikasi kehamilan yang lebih berat dari preeklamsia. Kondisi tersebut termasuk langka namun termasuk kondisi yang serius dan harus segera ditangani.

Kondisi ini umumnya terjadi pada usia kehamilan sekitar 20 minggu atau lebih. Eklamsia ditandai dengan naiknya tekanan darah dan penderitanya akan mengalami kejang sebelum, selama, atau setelah melahirkan.

Kehamilan

Melansir dari Heatline, eklampsia bisa terjadi pada 1 dari 200 wanita yang pernah mengalami preklamsia. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai eklampsia, simak gejala, penyebab, faktor resiko, dan pengobatannya berikut ini.

Eklampsia memiliki gejala umum berupa kejang yang terjadi selama, sebelum, dan juga sesudah melahirkan. Namun, karena eklampsia merupakan komplikasi lanjutan dari preklamsia, Anda mungkin akan mengalami gejala dari dua kondisi tersebut, seperti:

-Tekanan darah tinggi

-Sakit kepala

-Sakit perut

-Pusing, mual, dan muntah

-Pembengkakan pada tangan dan kaki

-Indra penglihatan mengalami gangguan

-Kadar protein dalam urin meningkat

-Frekuensi dan jumlah urin menurun

-Kenaikan berat badan

Kejang-kejang yang terjadi bisa terjadi sebanyak satu kali atau lebih dengan durasi yang berbeda-beda tergantung fasenya.

Fase pertama : pada fase ini, kejang akan berlangsung selama 15-20 detik dengan munculnya kedutan di wajah dan kontraksi pada otot seluruh tubuh.

Fase kedua : fase ini berlangsung selama 60 detik dengan kejang yang dimulai dari rahang lalu menjalar ke bagian wajah lainnya dan ke seluruh tubuh.

Dilansir dari Healthline, para dokter belum mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab dari munculnya kondisi preklamsia dan eklampsia pada ibu hamil. Namun, diperkirakan kondisi tersebut muncul karena pembentukan dan fungsi plasenta yang tidak normal.

Meski demikian, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko ibu hamil mengalami eklampsia, yaitu:

-Adanya riwayat preklamsia

-Adanya riwayat preklamsia dan eklampsia pada keluarga

-Kehamilan di bawah 20 tahun dan di atas 40 tahun

-Riwayat penyakit diabetes, penyakit ginjal, anemia sel sabit, -obesitas, dan penyakit autoimun.

-Hamil kembar

-Hamil karena bayi tabung

Diagnosis eklampsia biasanya dilakukan dengan wawancara mengenai kondisi yang dialami ibu hamul. Setelah itu, ibu hamil akan melakukan beberapa pemeriksaan kehamilan, riwayat penyakit, dan preeklamsia sebelumnya.

Dokter juga akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, tes urin, tes fungsi hati dan ginja, serta USG.

Ibu hamil yang mengalami kejang atau menunjukan gejala-gejala di atas, sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat atau IGD. Karena, pencegahan lebih dini bisa menyelamatkan ibu dan bayi yang dikandung.

Sementara itu, pengobatan atau penanganan eklampsia sebenarnya hanya bisa dilakukan dengan melahirkan anak yang di dalam kandungan lebih awal. Namun, dokter biasanya juga akan memberikan beberapa penanganan lain, seperti:

-Memberikan obat pengontrol tekanan darah serta vitamin

-Menyarankan untuk bed rest dengan pengawasan dokter

-Memantau kondisi janin dan ibu hamil

Demikian informasi mengenai eklampsia. Semoga bermanfaat.

(RIN)

1
3