Share

Studi: Kesepian dan Tidak Bahagia Lebih Berbahaya daripada Merokok

Astri Lawrensia, Jurnalis · Jum'at 30 September 2022 07:00 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi kesepian, (Foto: Freepik)

SEMUA orang tentu pernah merasa kesepian dan merasa tidak bahagia di dalam hidupnya. Kondisi ini sebenarnya adalah hal yang lumrah bukan?

Tidak salah jika seseorang merasa kesepian dan tidak bahagia, namun tidak untuk waktu yang lama. Dua perasaan ini tetap perlu dikontrol dengan baik. Sebab, jika terlalu lama kesepian dan tak bahagia, pada akhirnya bisa membahayakan diri kita sendiri.

Bahkan, dari penelitian yang digelar oleh Deep Longevity, Stanford University dan Chinese University of Hong Kong, menyebutkan kalau merasa kesepian dan tidak bahagia lebih berbahaya daripada merokok.

Penelitian dilakukan para peneliti dengan mempelajari dampak kesepian, kegelisahan dan ketidakbahagiaan pada tubuh yang menua. Para peneliti mempelajari 12000 orang dewasa Cina paruh baya dan lanjut usia, sepertiga di antaranya memiliki kondisi penyakit bawaan seperti penyakit hati dan paru-paru, kanker, dan riwayat stroke.

Kemudian, para peserta studi disurvei oleh tim dengan melihat berbagai faktor seperti demografi, lingkungan sosial, keadaan psikologis dan apakah mereka merupakan seorang perokok.

Seiring dengan survei, para ilmuwan juga menggunakan sampel darah dan data medis untuk membuat model yang akan memberitahu mereka usia biologis peserta. Konsep usia biologis digunakan untuk memperkirakan penurunan usia kronologis dan untuk mengetahui faktor-faktor lainnya seperti genetika, gaya hidup, darah, status ginjal dan Indeks Massa Tubuh (BMI).

Penelitian ini menunjukkan perhitungan yang baru dikembangkan untuk usia biologis (jam penuaan) yang mendeteksi penuaan yang dipercepat. Peneliti mengatakan, jika usia biologis seseorang lebih tua dari usia kronologis sebenarnya, kondisi tubuh orang tersebut secara teoritis lebih buruk dari yang seharusnya.

Melalui survei dan penelitian ini, peneliti lalu membandingkan hasil tes peserta dan mencocokkannya dengan usia kronologis dan jenis kelamin untuk melihat faktor mana yang membuat mereka menua lebih cepat.

Hasilnya? Didapati bahwa merasa kesepian atau tidak bahagia adalah faktor paling signifikan dari terjadinya penurunan usia yang cepat.

Ini sama dengan menambahkan satu jam penuaan usia hingga 20 bulan (1 tahun 8 bulan), sedangkan merokok hanya menambahkan sekitar satu tahun tiga bulan usia biologis (jam penuaan) seseorang. Artinya, kesepian dan ketidakbahagiaan menambahkan lima bulan lebih banyak usia biologis seseorang daripada merokok.

"Kami menyimpulkan bahwa komponen psikologis tidak boleh diabaikan dalam studi penuaan karena dampak yang signifikan pada usia biologis," tulis para peneliti.

“Tubuh dan jiwa Anda terhubung, ini adalah pesan utama kami,” tambah Fedor Galkin, salah satu penulis studi dan ilmuwan utama di Hong Kong Deep Longevity.

Peneliti juga menambahkan bahwa ada faktor lain yang tidak terlepas dalam peningkatan jam penuaan, misalnya seperti umur biologis laki - laki lima bulan lebih banyak dibandingkan wanita, tinggal di daerah pedesaan dengan ketersediaan layanan medis yang minim, hingga tidak menikah. Semua faktor ini, selama ini telah lama dianggap sebagai faktor kematian dini.

Namun, sebagai tambahan informasi karena penelitian ini hanya mengamati orang dewasa paruh baya hingga lanjut usia, masih belum jelas apakah hasil yang sama akan mempengaruhi kelompok usia yang lebih muda juga atau tidak.

 BACA JUGA:Studi: Bumil yang Sering Cemas, Bisa Tingkatkan Risiko Kelahiran Prematur

BACA JUGA:Studi: Pria dengan Mr P Besar Dianggap Lebih Menarik, Setuju?

1
3