Share

Mengenal Virus Langya, Cara Penyebaran dan Pencegahan Infeksinya

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Kamis 29 September 2022 14:32 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Virus Langya. (Foto: Freepik)

SEBANYAK 35 orang di Tiongkok terinfeksi virus langya. Langya henipavirus atau virus langya ditemukan menyebar di Cina Timur. Virus ini pun menyebabkan sejumlah gejala, seperti demam, batuk, dan kelelahan.

Peneliti pun menemukan virus baru ini dapat menular dari hewan ke manusia. Lalu, bagaimana cara penularannya? Bisakah penyebaran virus langya dicegah? Yuk, cari tahu jawabannya seperti dilansir dari KlikDokter.

Temuan virus langya pertama kali mengemuka dari hasil riset yang diterbitkan peneliti Beijing Institute of Microbiology and Epidemiology. Studinya dipublikasikan lewat New England Journal of Medicine, pada 4 Agustus 2022 lalu.

Seusai namanya, virus ini pertama kali diidentifikasi di distrik Langya yang terletak di Tiongkok Timur. Selama sekitar tiga tahun, peneliti memantau kondisi pasien di tiga rumah sakit di daerah tersebut.

Sejak April 2018 hingga Agustus 2021, terdapat 35 pasien yang mengeluhkan demam, sakit kepala, dan gejala lainnya. Sebagian besar pasien adalah petani. Mereka mengaku mengalami gejala usai melakukan kontak dengan hewan. Setelah ditelusuri, penyebab infeksi ternyata adalah virus baru. Virus ini kemudian dinamakan virus langya alias LayV.

Virus Langya

Virus langya termasuk dalam kelompok henipavirus. Virus ini memiliki kemiripan dengan jenis virus henipa lain, yaitu virus nipah dan virus hendra. Seperti virus langya, kedua virus henipa tersebut bisa menimbulkan gejala serupa, termasuk gangguan pernapasan.

Infeksi LayV sendiri dapat menimbulkan sejumlah gejala, di antaranya:

- Demam

- Kelelahan

- Batuk

- Sakit kepala

- Muntah

- Keram dan nyeri otot

Demam adalah gejala infeksi virus langya yang paling umum. Semua penderita Langya henipavirus mengalami demam. Sekitar setengahnya, menderita kelelahan, batuk, dan kehilangan nafsu makan. Sebanyak 1/3 pasien dilaporkan mengalami gangguan fungsi hati. Lalu, delapan persen pasien juga mengeluhkan gangguan fungsi ginjal.

Infeksi Langya henipavirus termasuk ke dalam golongan penyakit zoonosis. Artinya, infeksi virus ini dapat menyebar dari hewan ke manusia. Peneliti meyakini bahwa sumber utama penularan virus langya berasal dari tikus. Meski begitu, sebelum menginfeksi manusia, LayV juga bisa menular dari hewan perantara, seperti anjing dan kambing

Kendati dapat menular dari hewan ke manusia, peneliti belum menemukan bukti bahwa virus bisa menular antarmanusia. Sebanyak 15 anggota keluarga yang melakukan kontak erat dengan sembilan pasien mengaku tidak mengalami gejala infeksi virus langya.

Kendati demikian, belum dapat dipastikan apakah penularan dari manusia ke manusia tidak akan terjadi. Soalnya, ukuran sampel yang diteliti masih terlalu kecil. Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk membuktikan hal tersebut.

Kasus penularan langya henipavirus dari manusia ke manusia belum ada. Sejauh ini, infeksi virus langya juga dilaporkan tidak menyebabkan kematian. Meski begitu, kamu tetap perlu waspada. Disampaikan dr. Theresia Rina Yunita, untuk meminimalkan risiko penularan, kurangi kontak dengan hewan. “Terutama tikus yang terindikasi terinfeksi virus langya,” sarannya.

Kamu sebaiknya juga tidak mengonsumsi daging hewan yang dicurigai bisa berperan sebagai perantara virus langya. Tak lupa, jaga kebersihan dengan mencuci tangan, membersihkan peralatan makan dan masak, mengolah daging hingga matang, dan menjaga kebersihan air minum. Meski penyebaran antarmanusia belum ditemukan, jangan lengah terhadap bahaya virus langya, ya!

1
2