Share

Gaduh Es Teh Kekinian Kemanisan, Begini Kata Pakar Soal Kecanduan Gula!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 26 September 2022 10:57 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto: Ist)

PRODUK es teh kekinan tengah heboh diperbincangkan di jagat maya. Somasi yang dilayangkan pihak perusahaan kepada sebuah akun Twitter yang komplen karena gula “kemanisan” dalam minumannya, berujung kritik pedas netizen menyoal kandungan gula di minuman hits tersebut yang dinilai sangat tinggi.

Ahli Kesehatan Profesor Zubairi Djoerban pun angkat suara mengenai permasalahan ini. Ia menyoroti apa dampak buruk yang mungkin terjadi jika seseorang mengonsumsi gula dalam kadar berlebih.

 gula

"Gula di mana-mana. Sulit dihindari, apalagi yang merasakan sugar craving; ingin es teh manis saat panas, cokelat saat stres, es krim saat sedih, yang kesemuanya itu berisiko terhadap kesehatan (jika berlebihan)," terang Prof Beri, sapaan akrabnya di Twitter, dikutip MNC Portal, Senin (26/9/2022).

Ia melanjutkan bahwa es teh, cokelat, dan es krim yang mana itu semua mengandung gula tidaklah berbahaya. "Tapi dengan catatan tidak berlebihan," tegasnya.

Tak hanya itu, keseringan mengonsumsi gula, dapat membuat seseorang menjadi kecanduan. Melansir dari Hindustantimes, Senin (26/9/202), gula dapat memiliki efek yang sama pada otak sebagai addictive drug. Jika menghilangkan gula dari diet yang Anda jalani secara tiba-tiba, hal ini dapat menimbulkan gejala seperti kelelahan, sakit kepala, suasana hati yang buruk, maupun kram.

Prof Beri kembali menjelaskan penyebabnya. Menurut dia, terkadang seseorang mengalami hal yang bikin nagih itu tidak lain karena kebiasaan mereka sendiri.

"Ketika ngambek dikasih permen. Minum es teh manis saat panas-panas. Merayakan usia baru dengan kue ulang tahun, yang kalau semuanya dikonsumsi berlebihan, ya, akan berbahaya," terangnya, dikutip MNC Portal dari akun Twitter resminya, Senin (26/9/2022).

Menurut Prof Beri, kebiasaan itu akan menyebabkan kadar gula darah meningkat. Kadar gula darah yang tinggi ini akan diubah oleh tubuh menjadi lemak, sehingga dapat menyebabkan obesitas.

"Dari kondisi obesitas tersebut, risiko terkena kanker, gangguan jantung, dan otak akan lebih besar," ungkapnya.

1
2