Share

Mengenal Retail Therapy, Kebiasan Buruk atau Peningkat Suasana Hati?

Vivin Lizetha, Jurnalis · Kamis 22 September 2022 18:45 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi retail therapy (foto: istimewa)

BEBERAPA waktu lalu sempat heboh istilah retail therapy. Yaitu sebuah cara meningkatkan mood dengan berbelanja. Harus diakui, berbelanja adalah sesuatu yang disukai oleh banyak orang. Apalagi jika sedang banyak uang atau baru gajian. Gelora ingin menghabiskan uang pasti akan menggebu-gebu.

Dikutip dari Healthline, Kamis (22/9/2022), beberapa penelitian memang menyebutkan bahwa retail therapy ini akan membantu meredakan suasana hati yang buruk. Bahkan hanya sekedar melihat-lihat atau berkeliling toko tanpa membeli saja, sudah dapat membuat hati gembira.

 belanja

Tidak sedikit yang berpendapat bahwa retail therapy ini begitu tipis irisannya dengan pemborosan pengeluaran. Namun fakta mengejutkan menyebutkan bawa sebagian besar peserta retail therapy ini tetap masih berada dalam koridor anggaran belanja mereka. Hebat bukan?

Meski begitu, menurut hasil penelitian yang dikutip dari Healthline, retail therapy ini lebih cocok digunakan untuk memperbaiki mood orang yang sedang bersedih. Bukan untuk orang dalam emosi marah. Karena menurut penelitian tersebut, orang marah cenderung kalap saat belanja.

Retail therapy ini berbeda dengan gangguan belanja kompulsif. Para ahli percaya bahwa hormon dopamin adalah hormon yang menguasai seseorang saat belanja.

Bagi mereka yang mengalami gangguan belanja kompulsif, hormon itu terus meningkat hingga tak terkendali. Sedangkan pada retail therapy, biasanya setelah seseorang belanja akan muncul penyesalan setelah membeli barang tersebut.

(vvn)