Share

Satgas Monkeypox IDI: 90% Kasus Cacar Monyet dari Kelompok Homoseksual dan Biseksual

Kevi Laras, Jurnalis · Rabu 21 September 2022 15:16 WIB
$detail['images_title']
Cacar monyet (Foto: Parade)

KASUS cacar monyet atau monkeypox di dunia ternyata didominasi oleh kelompok homoseksual dan biseksual. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Satgas Monkeypox PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Hanny Nilasari, SpKK.

Menurutnya, diperlukan adanya edukasi dan informasi risiko penularan cacar monyet pada masyarakat. Sebagaimana informasi tersebut masuk dalam rekomendasi lanjutan Satgas monkeypox IDI.

 cacar monyet

"Merekomendasikan untuk memberikan komunikasi informasi dan edukasi terkait risiko penularan dan juga menjadi pertimbangan Kementerian Kesehatan dalam pemberian vaksinasi," ujar Ketua Satgas Monkeypox PB IDI, dr Hanny Nilasari, SpKK dalam webinar PB IDI Update on Monkeypox secara online, Rabu (21/9/2022).

Sehubungan dengan vaksinasi cacar monyet, IDI merekomendasikan agar tidak diberikan secara massal atau untuk semua orang. Di mana pemberian vaksin diutamakan atau disesuaikan dengan data dari dinas kesehatan (Dinkes) kabupaten/kota.

Sehingga tidak disalurkan ke Rumah Sakit secara langsung. Artinya vaksin diatur dalam alur sentralisasi di Dinkes.

"Penyediaan obat anti-virus dan vaksin sebaiknya disentralisasi dinas kesehatan kabupaten atau kota yang dituju dengan alur permintaan sesuai dengan ditetapkan Kementerian Kesehatan. Obat anti-virus dan vaksin ini tidak didistribusikan langsung ke berbagai rumah sakit, tetapi direkomendasikan sentralisasi di dinas kesehatan saja," jelasnya.

 BACA JUGA:Bisakah Cacar Monyet Diobati Secara Herbal?

Vaksin cacar monyet, untuk siapa?

Dokter Hanny menjelaskan ada tiga kelompok yang masuk jadi prioritas yaitu tenaga kesehatan, orang-orang yang diduga kena cacar monyet, dan orang yang kontak erat (KE) dengan pasien.

Kendati demikian, pemberian vaksin cacar monyet tidak menghilangkan infeksi. Melainkan meringankan gejala bila terinfeksi.

"Pasien, Nakes dan orang-orang (tracing) serumah yang diduga kontak erat. Pemberian vaksin diberikan untuk periode tertentu 4-10 hari pasien kontak dengan pasien tersebut. Vaksin tak menghilang kan infeksi tapi meringankan infeksi," katanya.

1
2