Share

Benarkah "Sleepover Date" Dapat Merusak Karier? Ini Faktanya!

Vivin Lizetha, Jurnalis · Selasa 20 September 2022 11:25 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi sleepover date (foto: istimewa)

ISTILAH "sleepover date" masih naik daun di media sosial saat ini. Beberapa orang berpendapat, istilah ini hampir sama seperti istilah sebelumnya. Baik itu "staycation", "Teman Tapi Mesra (TTM), "one night stand" ataupun "friend with benefits (FWB)." Semua istilah itu diidentikkan dengan kegiatan melakukan hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan.

Ada banyak kekhawatiran dari berbagai pihak bahwa istilah trend ini akan diikuti banyak orang terutama kalangan muda. Dikutip dari psychologytoday.com, di belahan dunia manapun saat ini tengah mengalami krisis hubungan terutama berkaitan dengan hubungan seksual. Anak muda banyak mengadaptasi budaya kebarat-baratan yang menggampangkan sebuah hubungan, langsung ke arah seksual.

  sleepover date

Mereka tidak menyadari hubungan seks menimbulkan ancaman yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan psikologis terutama kalangan muda. Selain risiko tertular Penyakit Menular Seksual (PMS), akan terjadi kehamilan yang tak diinginkan, atau konsekuensi emosional yang menetap lama pada diri seseorang.

"Di kampus-kampus, di mana hubungan seksual singkat lazim terjadi, hasil yang tidak terduga dapat membahayakan karier mahasiswa. Di tempat kerja, hasilnya bisa sama buruknya, jika tidak lebih," tulis artikel yang merupakan hasil penelitian dari Kinsey Institute Justin Garcia, dari Binghamton University, yang dikutip dari psychologytoday.com, Selasa (20/9/2022).

Dari hasil penelitian pun diketahui adanya banyak penyesalan, ingatan yang salah, rasa malu, merasa ternoda, yang terjadi pada mereka yang melakukan seks bebas.

Kinsey pun mengakui cukup sulit untuk melakukan penelitian tentang perilaku seksual. Banyak yang menutup diri, karena takut dihamiki, khususnya perempuan. Norma sosial lebih memandang rendah perempuan yang melakukan seks bebas daripada laki-laki. Meski ini berkaitan tentang biologis manusia, namun pandangan sosiokultural masih sangat berpengaruh dalam masalah ini.

1
2