Share

Pasien Lompat dari Lantai Dua Rumah Sakit, Kenali Yuk 7 Gejala Depresi!

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Senin 19 September 2022 14:39 WIB
$detail['images_title']
Pria depresi (Foto: Freepik)

SEORANG pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau mencoba bunuh diri. Pasien bernama Anwar ini lompat dari gedung RSUD Mandau lantai 2.

"Akibat percobaan bunuh diri, pasien mengalami luka serius di bagian kepala dan saat ini korban sedang mendapat perawatan," kata Kapolres Bengkalis AKBP Indra Wijatmiko Senin (19/9/2022).

 pasien lompat dari lantai 2 RS

Kapolres menjelaskan percobaan bunuh diri yang dilakukan Anwar yang berusia 40 tahun, tidak kali itu saja.

Ia sebelumnya dia mencoba bunuh diri dengan meminum cairan pembersih lantai. Namun nyawanya masih tertolong. Penyebab korban mau bunuh diri sendiri karena penyakit komplikasi yang sudah lama dideritanya.

Indra menjelaskan bahwa pada Minggu, 18 September 2022, korban dibawa ke RSUD karena telah melakukan percobaan bunuh diri dengan cara minum cairan pembersih lantai. Pasien pun ditangani oleh dokter penyakit dalam karena kondisinya, dokter menyarankan agar pasien rawat inap.

Namun ia kembali mencoba bunuh diri dengan lompat dari lantai dua rumah sakit. Akibatnya ia malah mengalami luka serius.

Nah, saat seseorang depresi sebaiknya memang dicegah bunuh diri. Sebelum depresi kian parah, kenali yuk berbagai gejala depresi yang perlu Anda sadari, sehingga Anda bisa lebih mawas diri. Apa saja?

Dikutip dari Medical News Today, berikut tujuh gejala depresi.

1. Perubahan nafsu makan dan berat badan

Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi gejala depresi. Beberapa orang beralih ke makanan untuk merasa nyaman, tapi ada juga yang jadi kehilangan nafsu makan atau makan lebih sedikit karena suasana hati yang buruk. Perubahan dalam asupan makanan ini bisa menyebabkan seseorang mengalami kenaikan atau menurunnya berat badan. Hal ini juga bisa mempengaruhi suasana hati dan tingkat energi.

2. Perubahan kebiasaan tidur

Ada hubungan yang kuat antara suasana hati dan tidur. Kurang tidur dapat menyebabkan depresi, dan depresi dapat membuat lebih sulit untuk tidur. Studi menunjukkan, kurang tidur kronis dapat menyebabkan depresi. Ini mungkin karena perubahan neurokimia di otak. Namun, tidur lebih dari biasanya juga bisa menjadi tanda bahwa seseorang mungkin mengalami depresi.

3. Kelelahan

Merasa sangat lelah adalah gejala depresi yang sangat umum. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen orang dengan depresi mengalami kelelahan. Meskipun lelah adalah perasaan wajar yang dialami setiap orang, tapi orang yang mengalami kelelahan yang parah atau terus-menerus, terutama jika disertai gejala lain, mungkin memiliki depresi tersembunyi.

 BACA JUGA:Usai Berhubungan Seks Malah Depresi, Ini Penyebabnya!

4. Kebahagiaan yang dipaksakan

Beberapa orang yang mengalami depresi menyembunyikannya dengan selalu memasang wajah bahagia saat bersama orang lain. Namun, mungkin sulit untuk mempertahankan kebahagiaan dan kepositifan yang dipaksakan ini. Seiring waktu, saat ‘topeng’ kebahagiaan ini tak dipakai dan seseorang bisa menunjukkan tanda-tanda kesedihan, keputusasaan, atau kesepian.

5. Hilang konsentrasi

Saat seseorang terdiam selama percakapan atau kehilangan pemikirannya, ini dapat mengindikasikan masalah dengan ingatan dan konsentrasi. Masalah seperti itu adalah gejala umum dari depresi. Suatu studi menunjukkan, sulit konsentrasi dengan i dan fokus ini dapat memperburuk dampak sosial dari depresi dengan membuat kehidupan kerja dan hubungan pribadi lebih menantang.

6. Sakit fisik dan gangguan kesehatan

Depresi adalah kondisi kesehatan mental, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik. Selain perubahan berat badan dan kelelahan, gejala fisik lain dari depresi tersembunyi yang harus diwaspadai meliputi sakit punggung, kondisi nyeri kronis, masalah pencernaan, hingga sakit kepala.

7. Perubahan kepribadian

Kepribadian beberapa orang yang depresi akan mengalami perubahan. Sebagian orang mungkin menjadi lebih pendiam dan menarik diri, atau mereka mungkin marah dan mudah tersinggung. Banyak orang tidak mengasosiasikan kemarahan dan cepat marah dengan depresi, tetapi perubahan suasana hati ini tidak biasa di antara orang yang mengalami kondisi tersebut. Alih-alih tampak sedih, beberapa orang dengan depresi tersembunyi mungkin menunjukkan sifat lekas marah dan kemarahan yang terang-terangan atau ditekan.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan berkecenderungan bunuh diri, segera hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah sakit terdekat.

1
2