Share

Picu Keracunan dan Kematian karena Overdosis, Pembelian Parasetamol Bakal Dibatasi?

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 16 September 2022 14:08 WIB
$detail['images_title']
Parasetamol, (Foto: Radharc Images/ Alamy- The Guardian)

PARASETAMOL merupakan salah satu obat yang sangat mudah dibeli tanpa resep di pasaran. Obat satu ini pun biasanya tak ditentukan batas maksimal pembeliannya.

Namun ternyata, ukuran paket parasetamol yang dijual di supermarket atau apotek bisa saja dikurangi. Begitu juga dengan pembeliannya yang akan dibatasi, dalam upaya untuk mengurangi cedera dan kematian akibat overdosis yang disengaja.

Rekomendasi di atas tertera dalam laporan ahli independen yang diterbitkan oleh regulator obat Australia, Therapeutic Goods Administration. Merujuk pada laporan TGA, pembatasan pembelian parasetamol ini karena ditemukan bahwa tingkat overdosis karena obat parasetamol yang disengaja itu paling tinggi di kalangan remaja dan dewasa muda, dan lebih sering terjadi pada wanita dan anak perempuan, mengutip The Guardian, Jumat (16/9/2022).

Setelah overdosis parasetamol, seseorang sebetulnya masih punya tingkat kelangsungan hidup yang cukup tinggi. Namun, dengan catatan hanya ketika ada perawatan medis dalam waktu enam jam. Jika tidak, ada risiko serius cedera hati dan bahkan kematian.

“Di Australia, paket parasetamol dalam jumlah tak terbatas dapat dibeli tanpa resep di apotek atau supermarket, dengan masing-masing 96 atau 100 paket tablet dan 20 paket tablet, menjadi yang paling umum dibeli melalui cara ini,” bunyi laporan TGA.

Overdosis konsumsi parasetamol, di Australia sendiri menyumbang sekitar 40 hingga 50 angka kematian setiap tahunnya. Setengahnya karena akibat kegagalan organ hati dan sisanya kemungkinan adalah karena parasetamol tertelan tetapi ada zat lain yang juga ikut tertelan, sehingga memicu kematian.

Sebagai catatan juga, TGA menyebutkan meski angka rawat inap dan kematian tidak meningkat dalam beberapa tahun terakhir, laporan memperlihatkan ada peningkatan penyalahgunaan yang mengkhawatirkan di tengah masyarakat.

"Keracunan diri yang disengaja menyumbang sebagian besar kasus keracunan pada kelompok usia di atas 10 tahun. Peningkatan paling mencolok pada mereka yang berusia antara 10 dan 24 tahun, dan untuk wanita, ada 2/3 dua pertiga dari kasus rawat rumah sakit,” keterangan dalam laporan TGA.

Keracunan parasetamol, khususnya keracunan yang disengaja disebutkan dua sampai 2 hingga 3 kali lipat lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Terutama usia remaja putri pada rentang 2019 hingga 2021. Keracunan yang disengaja sekarang, hampir dua kali lebih umum daripada keracunan yang tidak disengaja.

Dalam laporan yang sama, TGA juga merekomendasikan untuk diterapkan aturan pembatasan pembelian parasetamol tanpa resep untuk orang dewasa berusia 18 tahun ke atas untuk mengurangi tindak keracunan dan self harm di kalangan dewasa muda, yang disebut Dr. Rose Cairns, peneliti senior di Fakultas Farmasi Universitas Sydney, mengalami peningkatan di banyak negara saat ini.

"Laporan ini tidak melihat mengapa ini- (keracunan dan melukai diri sendiri) meningkat, tetapi menemukan kesimpulan kalau mengurangi penimbunan dan jumlah tablet parasetamol yang ada di rumah-rumah orang akan mengurangi bahaya," kata Dr. Rose

Rekomendasi dari TGA ini sendiri masih akan menerima pendapat lain hingga Oktober, dan kemudian akan dipertimbangkan pada pertemuan Komite Penasihat Obat-obatan pada bulan November mendatang.

 BACA JUGA:5 Risiko Buruk Kebanyakan Minum Obat, Awas Halusinasi Mengincar

BACA JUGA:Sebentar Lagi Hadir, Simak Yuk KIPI Vaksin Cacar Monyet!

1
3