Share

Belum Pernah Positif Terinfeksi Covid-19, Apakah Anda Termasuk Super Dodger?

Astri Lawrensia, Jurnalis · Kamis 15 September 2022 21:00 WIB
$detail['images_title']
Positif Covid-19, (Foto: Freepik)

PANDEMI Covid-19 sudah berlangsung hampir tiga tahun lamanya, bahkan sampai saat ini status pandemi pun belum dicabut oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam situasi pandemi, banyak orang di berbagai penjuru dunia yang terinfeksi lebih dari satu kali. Nah, di sisi lain, tak sedikit pula orang yang belum pernah positif Covid-19 meski beberapa kali telah terpapar Covid-19.

Apakah orang-orang yang belum pernah positif terinfeksi Covid-19 tersebut artinya punya kekuatan super, sangat taat protokol kesehatan, atau memang diberkahi dengan sistem kekebalan tubuh yang sangat kuat?

Paska dua tahun menjadi misteri, akhirnya suatu penelitian mutasi genetik mencoba menjawab teka-teki ini. Penelitian ini dilakukan oleh tim dari University of California, San Francisco. Dijelaskan bahwa sepanjang sejarah manusia, para ilmuwan hanya mengidentifikasi dua contoh virus ‘super dodgers’ sejati.

Artinya, ketika mutasi spesifik pada gen seseorang membuat orang tersebut benar-benar kebal terhadap virus, sehingga virus akan hilang dari sel dalam tubuhnya.

Sejauh ini, ‘virus super dodger ‘ yang paling terkenal adalah orang yang terlindungi dari HIV. Pada tahun 1996, ditemukan bahwa HIV ternyata membutuhkan sedikit bantuan ekstra untuk masuk ke tubuh karena butuh molekul spesifik yakni CCR5 pada permukaan sel untuk membuka pintu dan membiarkan virus masuk. Tanpa CCR5, virus hanya menempel di permukaan sel tetapi tidak bisa masuk.

Bekerja sama dengan beberapa kelompok penelitian waktu itu, tim peneliti mengurutkan gen CCR5 pada dua orang yang benar-benar resisten terhadap HIV. Hasilnya? kedua orang itu memiliki mutasi gen yang sama dan ini adalah mutasi yang kuat.

Penelitian di atas tersebut lah yang mendasari penelitian yang dilakukan oleh Jill Hollenbach dan tim untuk melihat cara kerja virus SARS-CoV-2 menginfeksi manusia, yang mana lebih kompleks daripada karena cara SARS-CoV-2 menginfeksi sel berbeda dari virus HIV.

Penelitian menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 menggunakan reseptor ACE2 (reseptor yang mengatur tekanan darah tubuh) dan sangat vital bagi manusia. Namun, peneliti menjelaskan bahwa mungkin ada mutasi yang lebih halus pada ACE2 yang bisa berperan dalam resistensi terhadap SARS-CoV-2.

Selain itu, kemungkinan lainnya adalah orang yang belum pernah terinfeksi Covid -19 memiliki mutasi pada gen selain ACE2, dan mutasi ini mungkin tidak menghindarkan 100 persen dari serangan infeksi, tetapi melindungi agar tidak sakit. Jadi memiliki salah satu dari mutasi ini akan membuat orang tersebut menjadi semacam Covid -19 ‘mini dodger’. 

Sejak pandemi dimulai, tim peneliti University of California tersebut mempelajari orang-orang positif Covid -19 namun tanpa gejala seperti batuk atau tenggorokan gatal. Setelah menganalisis DNA dari lebih dari 1400 orang, peneliti akhirnya dapat mengidentifikasi kehadiran mutasi gen HLA yang sangat penting selama tahap awal infeksi.

Mutasi gen inilah yang membantu untuk membersihkan virus SARS-CoV-2 begitu cepat sehingga tubuh tidak punya kesempatan untuk mengembangkan gejala. Tim peneliti mendapati, dengan memiliki mutasi tertentu pada gen tersebut meningkatkan kemungkinan seseorang untuk tidak menunjukkan gejala Covid-19 bahkan hampir 10 kali lipat.

Sebagai catatan, agar mutasi HLA berfungsi dan agar tubuh memiliki sel T sebagai pra-persenjataan, tentu tubuh sudah terlebih dahulu terinfeksi virus corona yang lain

"Semasa hidup, sebagian besar dari kita telah terpapar virus corona flu biasa dan kita semua menghasilkan sel T untuk melawan flu ini. Tetapi jika tubuh juga memiliki mutasi ini di HLA, ditambah dengan keberuntungan, sel T yang tubuh Anda buat ini juga dapat melawan virus SARS-CoV-2”, jelas Jill

"Respon imun dan sel T ini bekerja jauh lebih cepat daripada pada orang tanpa mutasi HLA. Pada dasarnya tubuh menghentikan infeksi bahkan sebelum tubuh mulai memiliki gejala," sambungnya.

Tim peneliti memperkirakan kemungkinan 1 dari setiap 10 orang punya mutasi gen seperti ini dan pada orang tanpa gejala, rasionya menjadi 1 dibanding 5,” pungkas Jill. Demikian sebagaimana dilansir NPR, Kamis (15/9/2022). 

BACA JUGA:Seberapa Ampuh Obat Paxlovid untuk Melawan Varian Covid-19?

BACA JUGA:Mengharukan, Orangtua Ini Ajak 3 Anaknya Keliling Dunia Sebelum Alami Kebutaan, Sempat ke Indonesia

1
3