Share

3 Alasan Mengapa Penyakit TBC Masih Menjadi Momok di Indonesia, Kemakan Mitos

Asthesia Dhea Cantika, Jurnalis · Rabu 14 September 2022 16:10 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto: iStock)

MENGULAS 3 alasan mengapa penyakit TBC masih menjadi momok di Indonesia. Tuberkulosis atau TBC termasuk penyakit menular yang menjangkit paru-paru.

TBC bisa dibilang akrab di kalangan masyarakat kita, diketahui penyakit ini sudah menyebabkan angka kematian cukup tinggi dengan merenggut 93 ribu kematian per tahunnya Indonesia.

Tingginya kasus TBC di Indonesia ini disebabkan oleh penularan yang cepat dan rendahnya kesadaran masyarakat. Masyarakat Indonesia menganggap penyakit ini termasuk dalam penyakit ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya.

TBC

Padahal penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis ini diketahui menempati urutan ke-13 sebagai penyebab utama kematian di dunia. Oleh sebab itu, perlu adanya edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat terkait penyakit TBC ini.

3 alasan mengapa penyakit TBC masih menjadi momok di Indonesia dikutip dari Kementerian Kesehatan:

1. Stigma negatif penderita TBC

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengemukakan, fakta di lapangan memperlihatkan bahwa memang penyakit TBC ini tak mudah untuk bisa teridentifikasi.

Penyebab kasus TBC masih tinggi di negeri ini, bukan hanya dari faktor teknis kesehatan karena tak bergejala, tetapi faktor sosial seperti lingkungan masyarakat pun sangat berperan.

Sebagai contoh, kuatnya stigma negatif yang beredar dan lekat di kalangan masyarakat umum Indonesia.

ā€œPertama masih ada stigma di masyarakat kalau menderita penyakit TBC itu adalah penyakit yang memalukan,ā€ kata dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid

Sementara, orang yang tinggal seatap dengan penderita TBC disarankan membersihkan rumah secara teratur, memastikan setiapĀ  memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik, dan memiliki pola hidup sehat agar kondisi tubuh tetap terjaga.

2. Masih Percaya Mitos

Tak hanya stigma negatif, sebagian masyarakat Indonesia masih percaya dengan mitos ataupun hal-hal mistis yang berkembang. Hal ini umumnya dikaitkan dengan berbagai penyakit yang diderita oleh warganya.

Begitu pun TBC, tak sedikit masyarakat yang percaya bahwa penyakit ini adalah kutukan leluhur atau hasil guna-guna seseorang. Alhasil, bukannya dibawa ke fasilitas kesehatan, penderita TBC justru disarankan untuk melakukan sejumlah ritual agar terhindar dari hal-hal buruk tersebut.

Penyakit ini tak bisa sembuh dengan ritual tersebut melainkan dengan perawatan medis dan mengonsumsi obat yang diresepkan secara disiplin.

Tak hanya itu, mitos lain yang berkembang di masyarakat Indonesia adalah TBC termasuk penyakit keturunan. Masyarakat menganggap penderita TBC akan menurunkan penyakit tersebut kepada anak dan cucunya.

Faktanya, TBC adalah penyakit menular yang disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularan terjadi melalui udara lewat droplet yang dikeluarkan oleh orang dengan TBC saat bersin, batuk, berbicara, bernyanyi, atau tertawa.Ā 

3. Rendahnya edukasi

Masyarakat Indonesia juga diketahui rendah akan informasi dan edukasi pengobatan TBC. Mayoritas, penderita TBC tidak pergi ke fasilitas kesehatan, sebab mereka menganggap penyakit ini bisa sembuh dengan mengonsumsi obat batuk biasa.

Persepsi dan pemahaman salah ini disebabkan oleh edukasi yang minim terkait TBC. Padahal, penderita TBC memerlukan pengobatan dalam jangka waktu tertentu secara tuntas.

Meski gejala sudah hilang, orang dengan TBC tidak boleh berhenti minum obat sebelum waktunya. Sebab, bakteri TBC belum sepenuhnya hilang, meskipun gejalanya sudah tidak ada.

Demikian 3 alasan mengapa penyakit TBC masih menjadi momok di Indonesia. Untuk mengurangi angka kasus TBC hendaknya adanya edukasi tentang penanganan dan menghilangkan mitos juga stigma negatif yang ada.

(RIN)

1
3