Share

Penderita OCD Wajib Kena Sinar Matahari Loh, Ini Alasannya

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Rabu 14 September 2022 12:31 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Sinar Matahari. (Foto: Shutterstock)

SELAMA pandemi Covid-19 ini kita tentu saja tidak asing dengan metode berjemur sinar matahari. Paparan sinar matahari memang disebut dapat memberikan vitamin D alami yan gbaik untuk menjaga imunitas seseorang melawan Covid-19.

Tapi, ternyata paparan sinar matahari tidak hanya untuk menghalau Covid-19 saja loh. Peneliti menyebut jika mereka yang memiliki OCD dapat lebih berkurang jika terpapar sinar matahari.

Obsessive compulsive disorder (OCD) merupakan gangguan kesehatan mental yang menyebabkan penderitanya memiliki obsesi dan perilaku kompulsif. Obsesi dan perilaku kompulsif dapat ditandai dengan melakukan sesuatu hal berulang.

OCD bisa disebabkan oleh gangguan fungsi otak, genetik, dan pengaruh dari lingkungan. Penelitian mengatakan, kekurangan sinar matahari juga dapat memperburuk gejala OCD.

Sinar matahari

Menurut penelitian dari Journal of Obsessive Compulsive and Related Disorders, terdapat hubungan antara sinar matahari dan keparahan gejala OCD. Para peneliti menyebut, lokasi geografis atau letak daerah tempat tinggal dapat memengaruhi keparahan gejala gangguan OCD seseorang.

Orang dengan OCD memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang kompulsif. Gejala OCD bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan memengaruhi kualitas hidup penderitanya secara keseluruhan. Dalam penelitian tersebut, Profesor Meredith Coles sebagai peneliti melakukan analisis data tingkat prevalensi dan lokasi geografis tempat tinggal penderita OCD.

Dia mengatakan orang yang tinggal di daerah garis lintang yang lebih tinggi atau daerah dengan sedikit paparan sinar matahari, lebih sering mengalami gangguan gejala OCD yang umum.

Kondisi ini terjadi karena orang dengan OCD sering mengeluh sulit tidur di malam hari. Karena itu, mereka berisiko bangun terlambat setiap pagi sehingga tidak mendapat sinar matahari yang cukup. Selain itu, peneliti menemukan pola tidur yang berantakan dapat memperburuk gejala OCD.

Follow Berita Okezone di Google News

Peneliti juga pernah mengumpulkan dan menganalisis data dari penelitian sebelumnya terkait OCD, khususnya studi yang menghubungkan antara gejala OCD dan pola tidur. Dari data penelitian sebelumnya, peneliti melihat adanya hubungan antara waktu tidur dan gejala OCD yang berulang dari waktu ke waktu.

Untuk memastikannya, peneliti mengamati ritme sirkadian pasien OCD secara langsung. Caranya dengan mengukur kadar melatonin serta meminta orang dengan OCD memakai jam tangan untuk melacak aktivitas dan waktu istirahat mereka.

Setelah diamati beberapa waktu, peneliti menemukan pola tidur dan sinar matahari sama-sama berkaitan dengan keparahan gejala OCD. Pola tidur yang tidak teratur dapat mengurangi paparan cahaya di pagi hari dan berpotensi memicu keparahan gejala OCD

Menyikapi temuan di atas, dr. Dyah Novita Anggraini mengatakan kekurangan sinar matahari dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental secara keseluruhan. “Orang yang kurang terpapar sinar matahari, mengalami kesulitan dalam mengatur siklus irama waktu sirkadian (waktu orang secara otomatis tidur di malam hari), jadinya memicu gangguan OCD tambah parah,” ucap dr. Dyah Novita seperti dilansir dari KlikDokter.

Sayangnya, masih belum banyak bukti yang menunjukkan bahwa terlalu sedikit paparan sinar matahari dapat memperparah gejala OCD. Menurut Dokter Dyah, ada beberapa hal lain yang dapat membuat gejala OCD bertambah parah. Di antaranya, pasien OCD yang tidak mendapatkan perawatan atau pengobatan rutin serta faktor lingkungan yang tidak mendukung.

Prof. Coles mengatakan ia dan timnya akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang pasti. Peneliti juga berencana menguji berbagai metode pengobatan guna mengatasi gangguan tidur dan ritme sirkadian untuk penderita OCD.

1
2