Share

Buat Pengeluaran Membengkak, Penyakit Infeksi Emerging Jadi Beban Berat Negara di Era Globalisasi

Intan Afika Nuur Aziizah, Jurnalis · Selasa 13 September 2022 19:39 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto: Freepik)

BUKAN hanya pada aspek kesehatan, penyakit infeksi emerging juga berdampak pada beban ekonomi pada suatu negara.

Ya, beban ini muncul karena tingginya biaya penanggulangan. Fakta ini, disampaikan langsung Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Infeksi Nasional, Prof. dr. Sulianti Saroso, Mohammad Syahril dalam International Workshop on Managing Emerging Infectious Diseases among Front-Line Healthcare Workers, acara yang diselenggarakan oleh Pusat Infeksi Nasional, RSPI Prof. dr. Sulianti Saroso dan terlaksana di bawah koordinasi Asia Pacific Economic Cooperation (APEC).

“Penyakit ini dapat menjadi beban ekonomi negara karena tingginya biaya penanggulangan. Oleh karena itu, kemampuan rumah sakit dan tenaga kesehatan dalam menangani penyakit infeksi emerging perlu ditingkatkan lagi dengan segera,” ujar dr. Syahril.

Dokter Syahril mengungkapkan, saat ini sudah sebanyak 40 penyakit infeksi emerging sudah terdeteksi sejak 1970-an. Terakhir, muncul hepatitis akut yang misterius. Penyakit-penyakit infeksi emerging ini menjadi penyebab kematian terbesar, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

 

(Foto: tangkapan layar) 

Mengutip laman resmi Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI, Selasa (13/9/2022), penyakit infeksi emerging ini memang mendapat perhatian khusus dan menjadi masalah kesehatan masyarakat serius. Sebab, penyakit ini tidak hanya menimbulkan kematian, tetapi juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang besar dalam era globalisasi, saat seluruh dunia saling terkoneksi satu sama lain.

Penyakit infeksi emerging ini, ditambahkan dr. Syahril juga membuat pengeluaran negara membengkak.

“Biaya yang dikeluarkan negara-negara pada level regional dalam menanggulangi SARS bisa mencapai USD 50 miliar,” imbuhnya.

Contoh lain, infeksi Covid-19 yang menekan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara hingga mengalami resesi. Bahkan, efek domino dari pandemi Covid-19 masih terasa hingga saat ini, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok karena ketersediaannya terbatas akibat pembatasan sosial saat pandemi Covid-19.

 BACA JUGA:Tangani Penyakit Infeksi Emerging Baru, Menkes Budi: Butuh Kolaborasi Lintas Negara

BACA JUGA:Peringatan Hari Kesehatan Gigi Nasional, Menkes Budi Soroti Sedikit Dokter yang Mau Kerja di Puskesmas

"Selain masalah biaya yang besar, di negara-negara berkembang anggota APEC, ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan untuk menangani penyakit infeksi emerging masih terbatas. Padahal, tenaga kesehatan menjadi garda terdepan dalam menangani penyakit menular," ujar Syahril, dikutip dari press release yang diterima MNC Portal Indonesia pada Selasa (13/9/2022).

Syahril pun berharap, tenaga kesehatan melalui workshop internasional ini bisa mendapat banyak pengetahuan. Sebab, tenaga kesehatan menjadi garda terdepan dalam penanggulangan penyakit-penyakit infeksi emerging.

Pada sisi lain, rumah sakit juga bisa menangani penyakit infeksi emerging dengan lebih baik sehingga dampak yang ditimbulkan bisa diredam. Dengan begitu, stabilitas perekonomian negara-negara APEC, baik negara maju maupun negara berkembang, bisa terjaga.

"Dengan demikian, bisa menanggulangi penyakit infeksi emerging dengan lebih baik," tandasnya.

1
3