Share

Masyarakat Ogah Vaksin Covid-19, Ahli Kesehatan: Jangan Jenuh Hidup Sehat

Kevi Laras, Jurnalis · Senin 12 September 2022 08:15 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto: Freepik)

PANDEMI Covid-19 yang berlangsung hampir tiga tahun, tak ditampik memang menimbulkan kebosanan pada masyarakat.

Jika sebagian orang masih mau mematuhi sederet protokol kesehatan dan mau divaksin hingga dosis ketiga (booster), ada juga tentunya sebagian orang yang sudah jenuh dengan banyak protokol kesehatan dan ogah divaksin, agar tetap hidup sehat di tengah pandemi Covid-19.

Melihat situasi ini, ahli kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Dr. Ede Surya Darmawan, SKM,M.DM mengatakan sebenarnya wajar saja jika memang masyarakat sudah begitu jenuh dengan kondisi saat ini.

Meski demikian, ia mengimbau setiap orang untuk tidak jenuh berusaha agar tetap hidup sehat.

“Efek jenuh sah-sah saja terjadi, yang tidak boleh jenuh adalah mengupayakan hidup sehat. Jenuh terhadap pandemi itu silakan, tapi jangan jenuh dengan tetap hidup sehat. Lebih baik sehat dan bugar dibanding kita sakit tapi punya segalanya,” dalam acara Talkshow Mengukur Relevansi Protokol Kesehatan, dikutip dari kanal YouTube BNPB Indonesia, baru-baru ini.

Salah satunya agar, jika suatu hari akhirnya terinfeksi Covid-19, maka dampaknya tidak akan sakit parah.

“Ketika tertular Covid-19 lagi, akan tidak terlalu parah," tambahnya.

Kembali ia mengingatkan, betapa pentingnya menerima vaksinasi Covid-19. Sebab, nyatanya dengan perlindungan yang diberikan oleh vaksin, bisa bekerja meringankan gejala, ketika seseorang terinfeksi virus Covid-19. Terlebih bagi kelompok orang dengan penyakit penyerta atau bawaan (komorbid).

Dokter Ede mengimbau masyarakat untuk segera mendapatkan vaksin booster atau dosis ketiga, apalagi karena masa efektivitas vaksin mulai menurun paska 6 bulan penyuntikan.

"Kalau berbicara aman sih belum ya, virus ini khasnya terus bermutasi. Sehingga ada potensi orang reinfeksi atau tertular kembali. "Ini pentingnya booster, antibodi itu kan tidak permanen, mengalami penurunan kira-kira dalam waktu 6 bulan oleh itu diperlukan booster, “ tegas Dr. Ede

 BACA JUGA:Apa Itu Vaksin Covid-19 Nasal yang Sedang Dikembangkan Cina dan India?

BACA JUGA:2 Perusahan Farmasi di Cina dan India Kantungi Persetujuan Merilis Vaksin Nassal Covid-19

1
2