Share

Pandemi Buat Kasus Gangguan Jiwa Naik ke 80%, Dokter Kejiwaan: Anxiety Paling Banyak

Kevi Laras, Jurnalis · Rabu 07 September 2022 11:44 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Gangguan Kejiwaan. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI Covid-19 bukan hanya membuat banyak orang kehilangan anggota keluarga mereka saja. Mereka yang nampak sehat dari luar bisa jadi memiliki tekanan mental yang menyebabkan gangguan kejiwaan.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) bahwa gangguan jiwa meningkat dari tahun 2020 sekitar 70% menjadi 80% pada 2022. Menurut Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp. KJ. MARS, Ketua Umum PDSKJI, dari hasil survei yang dilakukan, hasilnya paling banyak mengalami gangguan Anxiety atau kecemasan.

"Jadi pada tes yang dilakukan PDSKJI melalui website memberikan gambaran meningkatnya gangguan jiwa, khususnya depresi, kecemasan dan kondisi terkait trauma psikologis dan dari hasil tersebut sudah kami buat laporannya," kata Dr Diah, Ketua Umum PDSKJI dalam Talkshow Pengaruh Jangka Panjang Covid-19 Terhadap Kesehatan Mental dan Kognitif, di Kanal YouTube BNPB Indonesia, Rabu (7/9/2022).

"Yang paling banyak adalah gangguan anxiety atau kecemasan, dan juga diikuti gangguan depresi. Ada juga peningkatan gangguan jiwa berat, seperti Skizofrenia," ungkapnya.

Dampak yang timbul berupa tidak mudahnya layanan kesehatan jiwa selama pandemi. Banyak orang, dikatakan Dr Diah putus minum obat. Hal ini memicu gangguan jiwa, seperti kasus skizofrenia dan trauma psikologis lainnya terkait Covid-19. Baik dirasakan oleh individu atau kerabat terdekat.

"Kenapa? Karena memang pandemi ini tidak mudah mendapatkan layanan kesehatan jiwa. Sehingga banyak yang putus obat dan meningkatkan kasus-kasus Skizofrenia dan tentunya trauma -trauma psikologis yang terkait covid-19 baik itu, terjadi pada individu atau kerabat terdekat," jelasnya.

Kendati gangguan jiwa banyak dialami pada mereka usia produktif. Sebab adanya batasan atau berhenti segala aktivitas, yang rutin dilakukan, seperti kontak dengan orang lain pun dibatasi bisa memicu rasa cemas, dan lainnya. "Usia paling banyak yaitu usia produktif yang usia antara 19-36 tahun. Karena terputus sekali segala sesuatunya yang biasa dilakukan secara rutin kan," ucap Dr Diah.

World Health Organization (WHO) mengumumkan angka resmi jumlah korban pandemi Covid-19 selama kurun 2020-2021. Berdasarkan data lembaga ini, ada sekitar 14,9 juta orang, atau dalam kisaran lebih luas yakni 13,3-16,6 juta orang, meninggal akibat pandemi.

Angka tersebut diambil dari kasus kematian yang terkait langsung, dan diduga dipengaruhi pandemi Covid-19. Data dikumpulkan WHO sejak 1 Januari 2020-31 Desember 2021. Di Indonesia sendiri, total kematian akibat Covid-19 menempati posisi tertinggi kedua di Asia, mencapai 150.000 kasus.

1
2