Share

Sekolah Tatap Muka, IDI Minta Orangtua Evaluasi Anak Tiap Hari

Kevi Laras, Jurnalis · Sabtu 27 Agustus 2022 14:31 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Sekolah Tatap Muka. (Foto: Shutterstock)

KASUS Covid-19 di Indonesia memang mulai melandai, meskipun setiap hari masih ada mereka yang terpapar Covid-19. Pemerintah pun tetap mengizinkan sekolah offline atau Pembelajaran tatapan muka (PTM) di tengah pandemi Covid-19 tetap berlangsung.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Erlina Burhan, SpP(K) mengimbau agar pihak sekolah melibatkan orang tua. Di samping melihat dan mengawasi kesehatan anak, orang tua diharapkan bisa memonitor berlangsungnya PTM dan penerapan protokol kesehatan di Sekolah.

"Kalau bisa meminta bantuan para orang tua yang mana sekolah ada selalu perkumpulan orang tuanya. Jadi bisa ibu-ibu minta bantu dimonitor dilaksanakan atau tidak (protokol kesehatan), orang tua juga meminta untuk evaluasi keberlangsungan PTM," kata dr Erlina Burhan, SpP(K), Satgas Covid-19 IDI dalam Konferensi Pers bersama Ikatan Dokter Indonesia secara virtual.

Lebih lanjut dia mengatakan, orang tua juga harus mengevaluasi anak. Apabila sakit seperti flu atau demam, dilarang untuk berangkat sekolah. Bukan tanpa alasan, sebab virus Covid-19 lebih mudah menular dan mudah menginfeksi saat kondisi anak kurang sehat.

"Orang tua juga diminta untuk evaluasi anak, apakah adanya gejala demam atau pilek atau flu, ya jangan masuk sekolah jangan sampai dipulangkan oleh guru dari sekolah," imbuhnya.

Kendati demikian, dr erlina juga menyampaikan PHBS atau perilaku hidup bersih dan sehat, ditegaskan oleh dr Erlina terbukti mampu mencegah penyakit infeksi lainnya. Juga menyarankan agar masyarakat tidak stress agar kondisi tubuh tetap sehat. Sehingga pola pikir negatif bisa dikurangi, katanya.

"Point PHBS yaitu cuci tangan pakai sabun, etika batuk dan tidak menyentuh wajah ya itu ada di PHBS. Jangan dulu makan menggunakan tangan bisa pakai alat makan, hal lain berpikir positif thinking ya agar tidak stress," sambung dr Erlina.

Sebelumnya, Damar Wijayanti, Montessori & Certified Positive Discipline Parents Educator mengatakan penting bagi para orangtua untuk memahami kondisi anak sebelum mendaftar sekolah. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenalkan berbagai macam kegiatan kepada anak, agar menemukan minatnya.

Lebih lanjut Damar menjelaskan, keinginan anak untuk sekolah baiknya datang dari dirinya sendiri sehingga memiliki dorongan yang kuat dalam belajar. Orang tua juga perlu untuk menyiapkan stimulus seperti sensorik dan motorik sebelum anak memasuki sekolah.

Mempersiapkan anak masuk sekolah, tidak hanya soal mencari tempat dengan akreditas bagus. Namun, orangtua harus melakukan persiapan secara menyeluruh seperti menentukan jarak antara rumah dan sekolah, kualitas dan kuantitas pengajar, peraturan hingga kurikulumnya.

1
2