Share

Berbeda dengan Katarak, Pengobatan Ablasio Retina Tak Boleh Ditunda-tunda

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Jum'at 26 Agustus 2022 14:21 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Kesehatan Mata. (Foto: Shutterstock)

SALAH satu masalah retina yang cukup berbahaya adalah ablasio retina. Ablasio retina sendiri terjadi ketika ada kebocoran pembuluh darah karena trauma atau benturan pada mata atau tidak diketahui penyebabnya. Sementara terkait faktor risiko, riwayat minus tinggi menjadi salah satunya.

Dokter spesialis mata Dr Referano Agustiawan, SpM (K) yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) mengatakan masalah retina perlu segera mendapatkan penanganan demi menyelamatkan pasien dari kebutaan.

"Berbeda dengan katarak misalnya, mau ditunda seminggu, sebulan, setahun tidak ada masalah. Tetapi retina kadang-kadang dalam hitungan jam atau hari harus kita lakukan (tindakan)," kata dia seperti dilansir dari Antara.

Mata

Pada kasus ablasio retina atau kondisi akibat lepasnya lapisan retina yang diakibatkan oleh lubang atau robekan pada retina, misalnya, tindakan operasi dilakukan untuk menempelkan kembali retina. Walaupun ini tidak dapat mengembalikan kondisi penglihatan seperti sebelumnya, namun dapat menyelamatkan pasien dari kebutaan.

"Angka keberhasilannya cukup besar untuk menempel sekitar 90 persen. Dari 100 orang yang mengalami ablasio retina, 90 persennya bisa menempel dengan baik walaupun penglihatannya tidak bisa senormal sebelumnya," kata Referano.

Dia mengatakan, semua orang dapat terkena ablasio retina dengan penyebab yang dapat berbeda. Pada bayi prematur salah satunya, ablasio retina terjadi karena retina tidak matang dan menyebabkan lepasnya retina. Orang dengan diabetes tak tertangani dengan baik, kondisi minus tinggi, benturan pada mata dan ibu hamil juga berisiko terkena lepasnya retina.

Retina merupakan lapisan tipis di bagian belakang bola mata yang berperan penting dalam proses melihat. Retina berperan menangkap cahaya dari luar yang kemudian akan dirubah menjadi sinyal saraf dan akan diteruskan dan diterjemahkan oleh otak. Oleh karena itu, gangguan pada retina harus ditanggapi serius karena dapat berpotensi mengganggu penglihatan secara permanen atau kebutaan.

Data jumlah operasi terkait gangguan retina di JEC Eye Hospitals & Clinics sepanjang tiga tahun terakhir mencapai 10.000 tindakan. Selain ablasio retina, beberapa jenis gangguan retina lain yang kerap ditemukan yakni retinopati diabetika, degenerasi makula terkait usia dan retinoblastoma.

"Masalah retina bisa berakhir dengan kebutaan bila tak ditangani dengan baik. Kebutaan bisa dicegah dengan operasi yang tepat dan cepat," tutur Referano.

Saat ini, terdapat teknologi operasi retina dengan teknik pembedahan dengan insisi minimal (TSV 23G-27G), teknologi mikroskop terkini, intraoperative OCT untuk mendukung operasi retina. Teknologi yang dikatakan terbaru dan termutakhir ini ditawarkan di Kamar Operasi Retina 24 Jam di JEC @ Menteng.

1
2