Share

Kanker Serviks Masih Jadi Ancaman, Tes HPV DNA Diusulkan Jadi Program Nasional

Wiwie Heriyani, Jurnalis · Kamis 25 Agustus 2022 17:03 WIB
$detail['images_title']
Kanker servisk masih jadi ancaman

KANKER serviks atau kanker mulut rahim masih menjadi salah penyakit yang mengancam wanita Indonesia. Pasalnya, Indonesia menempati urutan pertama dari jumlah penderita kanker serviks di seluruh Asia Tenggara.

“Di Indonesia, angka kanker serviks penurunannya lambat, dan justru pada 2019-2020 itu meningkat dan menempati peringkat pertama di Asia Tenggara dan peringkat kedua untuk angka kematiannya,” ujar Perwakilan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Dr. dr. Tofan Widya Utami, saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis, (25/8/2022).

 kanker serviks

Menurut Dokter Tofan, tingginya kasus penyakit kanker yang terjadi karena infeksi Human papillomavirus (HPV) di Indonesia. Salah satunya adalah karena kurangnya fasilitas screening atau fasilitas kesehatan yang bisa menjadi wadah bagi wanita di Indonesia untuk melakukan konsultasi.

Karena tingginya angka kematian wanita Indonesia akibat kanker serviks, Dokter Tofan menegaskan, saat ini Kementerian Kesehatan bersama Instansi dan Kementerian lain berkolaborasi untuk mencanangkan deteksi dini kanker serviks melalui tes HPV DNA.

“Karena kurangnya screening, jadi rencananya periksa HPV untuk serviks diusulkan jadi program nasional yang dibiayai oleh pemerintah,” tegasnya.

 BACA JUGA:5 Tipe Orang yang Berisiko Alami Kanker Serviks, Anda Termasuk?

Dokter Tofan melanjutkan, kanker serviks yang memiliki risiko tinggi ini masih menjadi fokus edukasi untuk meningkatkan kesadaran di masyarakat, khususnya yang sudah aktif seksual untuk rutin melakukan tes deteksi dini.

“Karena masalah ini bukan masalah Kemenkes saja, tapi juga masalah nasional. Dan para perempuan yang sudah dewasa juga harus sudah mempunyai awareness tentang kebersihan organ intim mereka,” lanjutnya.

Sebagai informasi, deteksi dini kanker serviks yang ada saat ini yaknj meliputi IVA (Inspeksi visual asam asetat), Papsmear, Papsmear Berbasis Cairan, dan HPV DNA.

Tes HPV DNA dilakukan untuk mendeteksi sejak awal terjadinya infeksi virus HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan kanker serviks. Di Indonesia subtipe HPV 16,18,45 dan 52 menjadi tipe risiko tinggi yang cukup banyak ditemukan.

1
2