Share

Gadis Bucin Nekat Menyuntik Diri Sendiri Pakai Darah Positif HIV dari Pacarnya, Apa Risikonya?

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Jum'at 19 Agustus 2022 06:08 WIB
$detail['images_title']
Menyuntik diri sendiri (Foto: Verywell health)

BUCIN memang membuat seseorang berbuat bodoh di luar batas. Bahkan bisa mengancam kesehatan dan sejatinya tidak boleh dilakukan.

Sayangnya, kenekatan ini dilakukan oleh seorang gadis di Suwal Kuchchi, suatu desa di Assam, India sebagai bentuk ekspresi cinta untuk sang pacar.

 bucin

Bagaimana tidak, gadis berusia 15 tahun tersebut membuktikan cinta kepada sang kekasih dengan menyuntikkan dirinya dengan menggunakan darah dari sang pacar yang positif HIV, dikutip dari OddityCentral.

Kisah cinta keduanya, awalnya dimulai dengan berkenalan di Facebook. Kemudian akhirnya bertemu dan menjalin hubungan sekitar tiga tahun lamanya. Sang pria, pengidap HIV tersebut dikatakan berasal dari Kota Hajo. Selama menjalin hubungan, ia disebut telah beberapa kali mencoba kawin lari dengan gadis belia, kekasihnya tersebut.

Namun orangtua sang gadis, untungnya selalu berhasil melacak keberadaan putrinya dan membawanya kembali ke rumah.

Kali ini, alih-alih melarikan diri dengan kekasihnya, gadis berusia 15 tahun itu menemukan cara yang lebih ekstrem untuk membuktikan cinta kepada pacarnya.

Dia diduga menggunakan jarum suntik untuk menyuntikkan dirinya dengan darah pacarnya yang terinfeksi HIV meskipun sudah mengetahui risiko yang akan dia hadapi.

Saat ini, petugas kepolisian di Hajo telah menahan pacar gadis tersebut. Sedangkan gadis remaja malang itu, masih sedang dipantau oleh dokter dan kemungkinan besar harus minum obat selama sisa hidupnya untuk mencegah virus HIV menghancurkan sistem kekebalan di tubuhnya.

 BACA JUGA:Tak Sunat Bisa Sebabkan Kanker hingga HIV Loh

Apa sih risiko terinfeksi HIV?

Jika terinfeksi HIV maka risikonya akan mengalami gejala HIV. Meskipun orang yang hidup dengan HIV cenderung paling menular dalam beberapa bulan pertama setelah terinfeksi, banyak yang tidak menyadari status mereka sampai tahap selanjutnya.

Dalam beberapa minggu pertama setelah infeksi awal orang mungkin tidak mengalami gejala atau mengalami gejala seperti influenza termasuk demam, sakit kepala, ruam atau sakit tenggorokan.

Ketika infeksi semakin melemahkan sistem kekebalan, virus ini dapat mengembangkan tanda dan gejala lain, seperti pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan berat badan, demam, diare dan batuk.

Tanpa pengobatan, pasien dengan HIV juga dapat mengalami penyakit parah seperti tuberkulosis (TB), meningitis kriptokokus, infeksi bakteri parah, dan kanker seperti limfoma dan sarkoma Kaposi.

1
2