Share

Cegah Perilaku Kleptomania, Psikiater: Ajarkan Pada Anak Sedari Kecil

Kevi Laras, Jurnalis · Kamis 18 Agustus 2022 11:05 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi kleptomania, (Foto: Freepik)

PERILAKU kleptomania belakangan ini tengah ramai terdengar, terkait kasus seorang ibu ketahuan mencuri cokelat di suatu minimarket.

Kleptomania, tindakan mengambil atau mengutil barang diam-diam ini memang salah satu bentuk perilaku yang menyimpang.

Menurut ahli kejiwaan, dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, perilaku kleptomania dapat dicegah bahkan sejak saat usia anak-anak. Justru, saat anak-anak di usia tumbuh kembang ini, pencegahan lebih mudah diajarkan para orang tua.

"Masih sangat mudah diajarkan jadi sejak kecil, jadi kita orang tua bisa memberitahukan ke anak ada hal baik dilakukan yaitu mengambil barang dan membayarnya disebut membeli. Ada hal yang tidak baik dilakukan, jika mengambil barang diam-diam atau kita sebut mencuri," kata dr dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ, Psikiater di Smart Mind Center RS Gading Pluit, kepada MNC Portal, Kamis (18/8/2022).

 BACA JUGA:Mengidap Penyakit Linu Panggul, Mike Tyson Merasa Sudah Mendekati Ajal

BACA JUGA:6 Cara Mengatasi Kleptomania pada Anak - Anak, Nomor 5 Beri Perhatian

Pria yang bertugas sebagai psikiater di Smart Mind Center RS Gading Pluit tersebut menjelaskan, faktor impuls biasanya jadi penyebab utama seseorang menjadi kleptomania. Bukan karena ia membutuhkan barang atau benda tersebut.

Kleptomania muncul saat adanya dorongan dari dalam tubuh, untuk mengambil sesuatu. Dengan begitu, orang tua diminta untuk memahami kondisi anak, terlebih saat meminta sesuatu. Perlunya edukasi dan pengarahan terhadap anak soal mana perilaku baik dan tidak baik.

"Kita ketahui bahwa kleptomania itu mengambil barang bukan karena membutuhkan tersebut atau masalah difinansial tapi ada dorongan atau impuls," sambungnya

"Sebagai kondisi anak kecil, kita orang tua bisa melatih mereka untuk melatih ketika dorongan itu muncul. Anak diajarkan untuk bicara ke orang tuanya kalau anak pengen ini, supaya kita bisa merespons," pungkas dr. Andreas

1
2