Share

9 Kota dengan Tingkat Stres Tertinggi di Dunia, Bahaya bagi Otak!

Melati Pratiwi, Jurnalis · Selasa 16 Agustus 2022 12:11 WIB
$detail['images_title']
Hidup di kota besar banyak tekanan dan bikin stres (Foto: Financial times)

TEKANAN hidup di kota besar, kebutuhan ekonomi yang meningkat, dan tekanan kantor yang besar bisa memicu stres. Makanya wajar saja jika ada sejumlah kota dicap sebagai kota dengan tingkat stres tertinggi di dunia.

Bahkan, mengutip dari instagram Peponi Travel, Ibu Kota Indonesia masuk ke dalam salah satu jajaran kota dengan tingkat stres tertinggi di dunia!

 stres  menghadapi hidup di kota besar

Perlu diketahui, stres yang tinggi berbahaya bagi otak. Sebab stres juga memicu pusat ketakutan di otak, bagaimana caranya?

Stres memberi tahu tubuh Anda bahwa Anda berada dalam mode fight-or-flight, bahkan dalam situasi sehari-hari seperti bekerja atau mengendarai mobil. Hal ini akan mengirimkan banjir kortisol, hormon stres, ke dalam tubuh Anda untuk "merespon" stres.

Seiring waktu, peningkatan kadar hormon stres dapat menyebabkan serangkaian efek yang tidak diinginkan, seperti tekanan darah tinggi, peningkatan peradangan, berkurangnya aliran darah ke jantung, risiko serangan jantung dan risiko stroke yang bisa menyerang otak. Berbahaya ya guys, makanya harus diimbangi dengan hidup sehat dan mengurangi level stres.

Lalu kota-kota mana saja paling bikin stres di dunia?

1. Mumbai, India

Berdasarkan Stressful Cities Index oleh situs Vaay, Mumbai India memiliki polusi udara dan cahaya yang cukup tinggi. Sementata keamanan sosialnya justru cenderung rendah.

Fasilitas kesehatan di Mumbai, India pun, masih belum begitu baik. Ditambah lagi tingkat kemacetan di sana pun tak main-main.

2. Lagos, Nigeria

Kota Lagos di Nigeria menempati urutan kedua sebagai kota dengan tingkat stress tertinggi di dunia. Mengapa? Fasilitas kesehatan di kota tersebut masih memiliki nilai yang terbilang rendah.

Tingkat keamanannya pun dipertanyakan. Pasalnya, dari segi keamanan Lagos hanya mendapat skor 18.3 dari 100.

3. Manila, Filipina

Masalah yang dijumpai di kota Manilla, Filipina mampu membuat penduduknya mengalami stress. Sebut saja tingkat kemacetan yang parah maupun keamanan yang skornya cuman mencapai 29.8 dari 100.

Di samping itu, kepadatan penduduknya juga cukup tinggi. Bayangkan saja, ada 20.784 orang per kilometer persegi.

4. New Delhi, India

Lagi-lagi kota di India masuk ke dalam jajaran daerah dengan tingkat stress tertinggi. Jika urutan pertama diduduki oleh Mumbai, kali ini ada New Delhi.

Polusi udara dan kemacetan menjadi penyebab dari timbulnya stress. Tingkat keamanan rendah pun turut menjadi masalah.

 BACA JUGA:Kenali 8 Penyebab Wheezing Saat Bernapas, Salah Satunya Karena Stres

5. Baghdad, Irak

Kesetaraan gender di Baghdad masih relatif rendah. Dari segi stabilitas sosial-politik maupun kesetaraan minoritas pun juga sama.

Tak heran jika Stressful Cities Index oleh situs Vaay hanya memberikan skor 31.7 untuk kota Baghdad.

6. Kabul , Afghanistan

Bagi yang sensitif mendengar suara bising, sepertinya kota Kabul, Afghanistan tak begitu cocok denganmu. Tingkat polusi suara maupun udara cukup tinggi di sana.

Belum lagi tingkat keamanan maupun stabilitas sosial-politik hingga akses fasilitas kesehatan pun masih rendah.

7. Moskow, Rusia

Kota Moskow di Rusia boleh dibilang sangat modern, tapi tingkat kecamatannya pun mampu membuat orang stress. Polusi udara di kota Moskow pun cukup tinggi. Sedangkan kesetaraan kaum minoritasnya dinilai rendah.

8. Karachi, Pakistan

Polusi udara maupun suara di Karachi , Pakistan cukup tinggi. Jika tak ingin disebut sebagai kota dengan tingkat stress yang tinggi, Karachi sebaiknya menurunkan tingkat kemacetan dan juga memperbaiki fasilitas kesehatan.

9. Jakarta, Indonesia

DKI Jakarta ternyata masuk ke dalam daftar kota dengan tingkat stres tertinggi di dunia. Menempati urutan sembilan, Stressful Cities Index oleh situs Vaay memberikan nilai 41.8 saja.

Seperti yang diketahui bersama, Jakarta memang memiliki masalah pada kemacetan dan tingkat polusi udara yang masih relatif tinggi. Akses kesehatannya pun perlu ditingkatkan kembali. Selain itu tekanan ekonomi hidup di Jakarta sangat berat. Tak ada uang, tak makan!

1
2