Share

Apa Benar Jamur Kapang di Baju Bekas Berbahaya bagi Kesehatan?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 15 Agustus 2022 11:29 WIB
$detail['images_title']
Jamur kapang di baju bekas (Foto: Hello Lidy)

MENTERI Perdagangan Zulkifli Hasan membakar pakaian-pakaian bekas impor sebanyak 750 bal senilai Rp9 miliar. Tindakan ini untuk mencegah masyarakat Indonesia dari bahaya jamur kapang yang ada di pakaian seken tersebut.

Selain karena alasan itu, Mendag Zulkifli Hasan juga berharap dengan menghilangkan pakaian-pakaian impor bekas tersebut, masyarakat bisa lebih menghargai brand fashion lokal.

 baju bekas

Menjadi pertanyaan sekarang, apa benar jamur kapang yang ada di baju bekas berbahaya bagi kesehatan?

Jamur kapang yang ada di baju bekas memang bisa memberi dampak buruk bagi kesehatan. Penyakit yang bisa muncul dari paparan jamur kapang antara lain iritasi kulit hingga alergi parah.

Jamur yang muncul di pakaian kebanyakan punya ciri-ciri seperti berwarna putih atau terkadang hitam kehijauan. Jamur tersebut ada di permukaan pakaian dan sejatinya bisa terlihat oleh kasat mata.

Tak hanya itu, ada aroma khas juga dari jamur ini saat tumbuh di pakaian. Bau yang muncul adalah bau apek sekaligus bau tanah. Selain itu, pada beberapa jamur, saat Anda menyentuh pakaian, ada sensasi berlendir yang terasa di telapak tangan.

"Jamur kapang ada di pakaian bekas salah satunya karena udara yang lembap dan kurangnya ventilasi udara. Jamur ini bisa beracun dan tentu berbahaya bagi kesehatan," terang laman Bust Mold, dikutip MNC Portal, Senin (15/8/2022).

Seberapa berbahaya?

Menurut laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, itu sangat tergantung dari seberapa banyak jamur yang terpapar. Kalau dalam jumlah banyak, masalah bukan hanya ada di kulit tapi juga sistem pernapasan.

Ya, jamur yang terhirup bisa menyebabkan masalah seperti batuk, bersin-bersin, mengi, hingga sebabkan demam. Pada anak-anak atau lansia dengan kondisi tubuh rentan, masalah serius sangat mungkin terjadi.

 BACA JUGA:5 Cara Menghilangkan Jamur Pada Kuku, Nomor 3 Paling Aneh

"Kalau Anda super sensitif, jamur di pakaian bisa menyebabkan alergi hingga ruam kulit. Bahkan, Anda bisa mengalami kelelahan, sakit kepala, dan pusing," terang laman Bst Mold kembali.

Di sisi lain, peneliti di Iran pernah melakukan studi soal pakaian bekas ini dan benar bahwa jamur yang ada di pakaian seken berbahaya bagi kesehatan.

Studi dilakukan pada 800 pakaian bekas, 400-nya adalah pakaian bebas yang dicuci, sisanya tidak dicuci. Pakaian bekas ini dikumpulkan dari 2018-2019 di Teheran, Iran.

Deteksi jamur dan parasit dilakukan dengan teknik pita transparan menggunakan pita transparan persegi panjang berukuran 2x6 cm. Sisi perekat ditempatkan di pakaian, lalu ditarik, dan dipisahkan. Pita perekat tersebut dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.

Pengerjaan di laboratorium dikerjakan dengan pertama-tama perekat 'dibanjur' setets laktofenol untuk memisahkan parasit dengan perekatnya. Kemudian, cairan yang terkumpul diperiksa di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 4 dan 10 X. Analisis statistik menggunakan SPSS 14. Uji Chi-square diterapkan untuk menentukan signifikansi asosiasi untuk prevalensi parasit.

"Dari 800 pakaian bekas tersebut, didapati 22 pakaian positif terkontaminasi parasit dan ektoparasit. Lebih lanjut, spesifik pada pakaian yang tidak dicuci didapati 10 baju mengandung Enterobius egg, 6 baju mengandung Pediculus spp egg, dan 6 baju lainnya mengandung Sarcoptes scabiei. Tidak ada parasit pada pakaian yang dicuci," terang laporan studi tersebut.

Apa bahayanya dari parasit-parasit tersebut?

Kalau Pediculus spp, parasit ini bisa menyebabkan demam hingga tipes. Lalu, kalau Sarcoptes scabiei menyebabkan rasa gatal dan lecet yang hebat, dan untuk Enterobius egg adalah masalah di kulit yang berarti.

"Kesimpulannya, kasus ditemukannya parasit berbahaya di baju bekas tidak dicuci cukup tinggi. Pakaian bekas secara umum dapat menularkan penyakit kulit dan rambut, khususnya pedikulosis dan kudis. Selain itu, penting untuk mencuci bersih pakaian bekas ini, disetrika, lalu didesinfeksi untuk mengurangi kemungkinan penularan patogen ke manusia," ungkap studi tersebut.

1
2