Share

Jangan Bangga Gila Kerja, Terbukti Tak Sehat buat Otak!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 15 Agustus 2022 11:00 WIB
$detail['images_title']
Lelah kerja bagai kuda (Foto: Freepik)

APAKAH Anda seorang 'workahlic' yang kalau sudah bekerja, bekerja bagai kuda alias susah berhenti? Jika iya, Anda harus pertimbangkan untuk menghentikannya, karena akan berdampak pada otak.

Selama ini banyak orang bangga karena gila kerja, padahal hal itu berdampak buruk bagi otak dan kesehatan tubuh.

Para peneliti menemukan adanya kaitan antara kerja terlalu keras dengan masalah serius di otak. Menurut peneliti, ketika kerja otak dipaksa untuk lebih panjang dari biasanya, itu akan memicu penumpukkan racun di otak yang dikenal sebagai korteks prefrontal.

 lelah kerja bagai kuda

"Pada akhirnya, itu akan mengubah kendali Anda atas keputusan," kata peneliti, dikutip dari Huffington Post, Senin (15/8/2022).

Ini terjadi karena secara alami, kata para ahli, otak mungkin akan berkata 'Sudah cukup untuk hari ini. Aku sudah selesai dengan semuanya'. Ketika level itu sudah dicapai, jangan paksa otak untuk bekerja lagi.

Untuk membuktikan adanya 'kerusakan otak akibat kerja bagai kuda, peneliti menggunakan teknik MRS atau spektroskopi resonansi magnetik untuk memantau kimia di otak pada dua kelompok orang selama hari kerja. Kelompok pertama adalah mereka yang termasuk 'workaholic', sementara kelompok kedua pekerja 'normal'

"Pada kelompok pertama, didapati adanya tanda-tanda kelelahan, termasuk berkurangnya pelebaran pupil di mata," kata peneliti.

Peneliti juga menemukan bahwa pada kelompok workaholic, mereka mengalami peningkatan glutamat yang lebih tinggi di sinapsis korteks prefrontal otak.

Temuan ini mendukung gagasan bahwa akumulasi glutamat membuat seseorang lebih susah mengontrol sistem kognitif dalam otaknya. Dengan kata lain, orang-orang pada kelompok ini mengalami beban mental yang lebih nyata setelah selesai bekerja.

"Teori-teori berpengaruh menyarankan bahwa kelelahan adalah semacam ilusi yang dibuat oleh otak untuk membuat kita menyadari bahwa kegiatan apapun harus dihentikan, kemudian beralih ke aktivitas yang menyenangkan," kata penulis studi Mathias Pessiglione, dari Pitié-Salpêtrière Université de Paris, Perancis.

Penelitian ini, anjut Pessiglion, juga membuktikan bahwa kelelahan secara alami mengirim sinyal ke otak untuk berhenti bekerja. Tujuannya adalah demi menjaga integritas fungsi otak itu sendiri.

Dari temuan ini, lanjutnya, di masa depan akan diketahui batas ideal seseorang dapat bekerja. Ini penting juga untuk mendeteksi kelelahan mental yang parah yang terbukti membawa masalah bagi otak.

Ya, saat seseorang sudah mengalami kelelahan mental yang parah, itu akan berpengaruh pada masalah fisik. Satu studi telah mengaitkan hal ini dengan fibrilasi atrium (AF) yang mana itu membuat detak jantung tidak teratur, yang mana itu adalah penyebab utama stroke.

"Jadi, bisa kami sarankan bahwa ketika sudah lelah, istirahatlah. Sebab, saat tidur glutamat bisa berkurang dan ketika sudah 'overwork', jangan paksa otak untuk mengambil keputusan penting," saran Pessiglione.

1
2