Share

Ahli Penyakit Menular di Inggris Sebut Virus Langya Bukan Penerus Covid-19

Putra Syah Norens, Jurnalis · Jum'at 12 Agustus 2022 10:47 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi virus Nipah terkait Langya, (Foto:Kateryna Kon/Shutterstock)

KEHADIRAN virus Langya, virus baru di Cina tengah menarik perhatian publik. Diketahui, virus yang ditemukan di China Timur ini telah kurang lebih menginfeksi 35 orang.

Virus Langya berasal dari famili Henipavirus (LayV) dan kasus wabah baru ini diidentifikasi di dua kota di Cina, Shandong dan Henan. Dari laporan Dailymail, virus Langya pertama kali diidentifikasi pada seorang petani perempuan berusia 53 tahun.

Kemunculan virus baru di tengah kondisi masih pandemi Covid-19 dan darurat wabah cacar monyet seperti sekarang, tentu menambah kekhawatiran masyarakat.

Namun, menurut Profesor Francis Balloux, ahli penyakit menular di University College London, mengatakan bahwa data saat ini menunjukkan virus tidak menyebar dengan cepat pada manusia.

“Ada sedikit bukti bahwa Langya bisa menyebar dengan mudah di antara orang-orang, yang artinya virus ini memiliki potensi pandemi yang rendah,” ujar Profesor Francis.

Melalui akun Twitter miliknya, Profesor Francis menyebutkan masyarakat jangan buru-buru panik terlebih dahulu karena virus Langya tidak terlihat memiliki potensi sebagai penerus Covid-19. Namun ia mengingatkan, virus ini tetap bisa jadi ancaman besar terhadap patogen yang beredar di populasi hewan liar dan domestik yang berpotensi menginfeksi manusia, dikutip dari DailyMail, Jumat (12/8/2022).

Disebutkan lebih lanjut, para ilmuwan yang melacak Langya telah menguji berbagai hewan liar kecil untuk virus. Lalu ilmuwan menemukan bahwa tikus memiliki tingkat positif tertinggi, 71 dari 262 yang diuji, sekitar satu dari empat. Selebihnya, virus ini juga terlihat pada sebagian kecil anjing peliharaan (5 persen) dan kambing (2 persen).

Kekhawatiran atas virus Langya meningkat karena termasuk dalam kelompok patogen yang disebut henipavirus. Beberapa anggota keluarga virus ini membunuh hingga 75 persen dari mereka yang terinfeksi.

Tetapi patogen yang baru diidentifikasi sejauh ini hanya menyebabkan gejala ringan seperti flu pada manusia, seperti demam, kelelahan, batuk, kehilangan nafsu makan, dan nyeri otot.

Melihat dari data 35 pasien dengan dugaan infeksi, 26 di antaranya (74 persen), menunjukkan hasil tes positif terjangkit virus Langya. Sedangkan sisanya terinfeksi virus tambahan yang mungkin berkontribusi pada gejala yang mereka alami.

Mayoritas pasien yang dikonfirmasi adalah pekerja pertanian, dengan sisa pekerja pabrik, dan satu pelajar.

Saat ini, para ahli kesehatan di Cina yang menyelidiki masih berusaha mencari tahu apakah virus bisa menyebar dari orang ke orang.

Sebagai informasi, virus Langya mendadak jadi perhatian internasional pekan ini setelah ada laporan penemuan yang diterbitkan oleh para ahli Cina, Singapura, dan Australia di New England Journal of Medicine, yang diterbitkan pada 4 Agustus 2022.

1
2