Share

Demi Kesehatan Masyarakat, BPOM Diminta Awasi Pangan yang Mengandung Zat Berbahaya

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Kamis 11 Agustus 2022 16:41 WIB
$detail['images_title']
Makanan mengandung zat berbahaya (Foto: The dallas morning news)

SAAT ini Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) terlihat gencar mengkampanyekan bahaya penggunaan Bisfenol A (BPA) yang ada dalam kemasan galon guna ulang berbahan polikarbonat dengan alasan mengganggu kesehatan para konsumen. Padahal masih banyak hal lain yang perlu diawasi, yakni pangan yang dijual di masyarakat tanpa izin edar dari BPOM.

Sejatinya banyak pedagang nakal yang menambahkan zat-zat berbahaya pada kuliner yang dijual, seperti boraks dan formalin, di mana keduanya merupakan bahan yang tidak boleh dicampurkan pada makanan.

 bahaya bakso mengandung boraks

Dosen dan Peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center, Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma menjelaskan, pangan yang mengandung zat berbahaya ini dan tidak memiliki izin edar sulit untuk dijangkau oleh BPOM. Padahal pangan mengandung zat berbahaya ini perlu pengawasan yang lebih ketat.

“Tapi, kalau untuk konsumsi besar, mereka kan sudah taat aturan. Mereka pasti akan meminta izin khusus dulu kalau mau menggunakan bahan-bahan tambahan melebihi dari batas yang sudah ditentukan,” ujarnya.

Sebenarnya, kata Nugraha, informasi-informasi mengenai zat-zat apa saja yang bisa digunakan untuk pangan dan batas-batas penggunaannya itu sudah diatur dalam peraturan BPOM dan sudah tersedia di website resmi BPOM. “Di sana diatur semua tentang keamanan pangan, tentang peraturan bahan tambahan pangan, itu sudah tertulis secara lengkap,” tukasnya.

Salah satu contoh perlunya pengawasan serius dari BPOM terhadap pangan adalah, peristiwa di mana baru-baru ini terjadi tubuh seorang anak berusia 5 tahun di Ponorogo tiba-tiba terbakar saat akan menikmati jajanan ice smoke yang diolah dengan menggunakan nitrogen cair. Akibatnya, anak tersebut menderita luka bakar 30% di tubuhnya.

Kepala Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Fredy Kurniawan menyampaikan pada saat berada di suhu yang sangat dingin, zat seperti nitrogen cair itu tidak boleh bersentuhan dengan organ manusia secara langsung. Pasalnya, walau nitrogen tidak mengeluarkan api, zat ini bisa menyebabkan cold burn atau terbakar karena suhu yang amat dingin. "Bekas terbakar pada temperatur yang dingin, kulit seperti melepuh," ujarnya.

Dia mengatakan, makanan yang diolah dengan nitrogen cair dengan cara yang tak tepat bisa menyebabkan luka bakar serius. "Luka bakar serius (menjadi risiko paling bahaya). Ini benar-benar tidak boleh sampai tersentuh. Efek lain ketika nitrogen menguap yakni akan mengusir oksigen," ucapnya.

"Anda bayangkan kalau penjual itu tidak tahu, ditambahkan dalam jumlah agak banyak. Ada yang menguap, ada yang masih liquid. Yang liquid bisa masuk mulut dan menyebabkan terbakar mulutnya," tuturnya.

Selanjutnya, racun kimia yang umumnya digunakan untuk membunuh pestisida pada buah-buahan dan sayuran yang disukai anak-anak. Residu dari bahan kimia ini biasanya tertinggal atau menempel pada apel, stroberi, melon, ketimun dan sayuran lain yang menggugah untuk segera dimakan.

 BACA JUGA: BPOM Sita Kosmetik Ilegal Ratusan Juta Rupiah, Orang Indonesia Banyak yang Ingin Putih!

Residu pestisida yang ikut termakan oleh anak bisa menyebabkan disabilitas, perkembangan otak bermasalah dan gangguan saraf. Ini sangat berbahaya pula jika dikonsumsi oleh ibu hamil. Salah satu unsur kimia pestisida yang paling berbahaya adalah Chlorpyrifos yang dapat mematikan sel saraf anak.

Zat-zat kimia pangan lainnya yang perlu pengawasan serius BPOM adalah arsenik yang ada pada makanan cereal, snack, dan beras bubur yang biasa dikonsumsi anak-anak.

Arsenik ini dapat menahan laju berat badan pada bayi dan anak-anak. Ini membuat mereka tetap kurus walau telah banyak makan. Selain itu, dampak yang lebih serius adalah tumbuhnya sel kanker dan impotensi pada orang dewasa.

Phthalates, juga perlu diwaspadai. Zat ini biasa ditemukan pada plastik dan pembungkus makanan. Efeknya memang tidak langsung terlihat, tapi berbahaya untuk jangka panjang.

Aspartam atau pemanis buatan yang lebih manis daripada gula juga bisa menyebabkan kanker dan diabetes, dan sangat berbahaya bagi anak.

Tidak hanya pada makanan saja, menurut Nugraha, zat-zat kimia yang ada pada kemasan juga perlu diwaspadai. Untuk kemasan plastik misalnya, semua zat kimia pada plastik itu berbahaya untuk kesehatan, sehingga perlu adamnya pengaturan batas amannya dari BPOM.

1
2