Share

Cacar Monyet Bersifat Self-Limiting dan Bisa Sembuh Sendiri, Ini Faktanya

Rina Anggraeni, Jurnalis · Rabu 10 Agustus 2022 11:33 WIB
$detail['images_title']
Cacar Monyet Bersifat Self Limiting(Foto: BBC)

CACAR  monyet bersifat self-limiting dan bisa sembuh sendiri berdasarkan penelitian dari para ahli kesehatan dunia. Cacar monyet telah mewabah di seluruh dunia dan membuat panik masyarakat. Penyakit cacar monyet ini merupakan pemikiran yang berasal dari infeksi virus langka dari hewan yang menyerupai penyakit cacar.

Adapun, Cacar monyet bersifat self-limiting dan bisa sembuh sendiri itu dilihat dari gejalanya apakah berat atau ringan.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Mohammad Syahril mengatakan masa inkubasi monkeypox 5 sampai 13 hari atau 5 sampai 21 hari. Di mana dua periode, pertama masa invasi, terjadi 0 sampai 5 hari terjadi demam tinggi, sakit kepala yang berat, dan terdapat benjolan atau pembesaran kelenjar limfa di leher, kemudian diketiak, atau selangkangan.

Kedua, masa erupsi, terjadi 1 sampai 3 hari pasca demam, terjadi ruam pada kulit, ruam pada wajah, telapak tangan, kaki, mukosa, alat kelamin, dan selaput lendir mata.

“Cacar monyet ini bisa sembuh sendiri setelah 2-4 minggu pasca masa inkubasinya selesai. Penyakit ini akan sembuh sendiri tidak terlalu berat. Dari negara-negara yang melaporkan kasus monkeypox hanya sekitar 10% pasien dirawat di rumah sakit,” ucap Syahril dikutip Okezone

Yang perlu diperhatikan, lanjut Syahril adalah adanya komplikasi yakni infeksi sekunder, bronkopneumonia, maupun sepsis, ensefalitis, infeksi kornea sehingga menyebabkan kebutaan.

Sebelumnya Akademisi Universitas Brawijaya (UB) dr. Dhelya Widasmara mengungkapkan, secara keseluruhan penyakit cacar monyet hampir mirip dengan cacar air pada umumnya, tetapi cenderung lebih ringan.

"Yang membedakan adalah, pada cacar monyet didapatkan pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati),"

Cacar monyet bersifat self-limiting dan bisa sembuh sendiri ini juga memiliki penularan virus monkeypox terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan hewan, manusia, atau bahan yang terjangkit atau terkontaminasi virus. Kemudian virus masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit atau luka yang sangat kecil (walaupun tidak terlihat), saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut).

"Sedangkan penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran, kontak langsung dengan cairan tubuh atau material dari lesi (seperti darah), atau kontak tidak langsung, seperti melalui alas yang terkontaminasi”, katanya.

(RIN)

1
3