Share

Pasien di Jawa Tengah Negatif, Indonesia Belum Temukan Kasus Cacar Monyet

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 10 Agustus 2022 10:39 WIB
$detail['images_title']
Kasus cacar monyet (Foto: BBC)

HINGGA kini pemerintah belum mengonfirmasi kasus cacar monyet. Kabar terbaru terkait pasien suspek di Jawa Tengah mengungkapkan bahwa pasien negatif cacar monyet.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril mengatakan, pasien suspek cacar monyet di Jawa Tengah hasil PCR-nya menunjukkan negatif. "Artinya, pasien discarded cacar monyet," katanya.

 cacar monyet

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia dr Retno Asti di sisi lain menjelaskan, hingga saat ini kasus cacar monyet tidak ada, itu artinya jika suatu hari kasus ditemukan di satu wilayah, wilayah itu otomatis ditetapkan sebagai kawasan KLB.

"Satu saja dikonfirmasi cacar monyet di daerah tertentu, wilayah itu langsung ditetapkan kawasan KLB atau kejadian luar biasa," terang dr Asti.

Kalau itu terjadi, langkah pertama yang akan dilakukan adalah memastikan kasus suspek dan probable dari temuan kasus konfirmasi cacar monyet. Langkah ini dilakukan untuk segera memutus penyebaran virus monkeypox di wilayah tersebut.

Tes laboratorium PCR akan dilakukan kepada mereka yang kontak dekat dengan pasien konfirmasi. Jika dari kontak dekat itu ada yang bergejala, mereka akan dikategorikan sebagai suspek dan probable.

"Karantina akan diberlakukan pada kontak dekat yang bergejala selama 21 hari. Kalau hasil lab-nya keluar dan dinyatakan negatif, kontak dekat itu statusnya discarded cacar monyet," papar dr Asti.

Semua kejadian harus dilaporkan ke puskesmas, yang mana dari puskesmas akan dilanjutkan ke dinas kesehatan daerah baru diteruskan ke pusat, yang pada akhirnya dilaporkan ke Kementerian Kesehatan. Laporan dari puskesmas ke dinas kesehatan daerah sudah harus disampaikan kurang dari 1x24 jam setelah kasus didapati.

 BACA JUGA:Cacar Monyet Bisa Menular Lewat Hewan Peliharaan? Ini Kata Dokter Ahli

"Selama masa identifikasi kasus, kontak dekat sekalipun tidak bergejala tidak diperkenankan untuk donor darah, sel, organ tubuh, jaringan, ASI, maupun air mani," tambah dr Asti.

(DRM)