Share

Status KLB akan Ditetapkan Pada Wilayah yang Laporkan Kasus Cacar Monyet Pertama di Indonesia

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 10 Agustus 2022 10:30 WIB
$detail['images_title']
Virus cacar monyet (Foto: Reuters)

PEMERINTAH Indonesia hingga kini memang belum mengkonfirmasi adanya kasus cacar monyet. Perkembangan terakhir, hanya terkait satu orang pasien suspek di Jawa Tengah.

Pasien suspek ini pun sudah dinyatakan negatif dari hasil tes swab PCR, oleh Kementerian Kesehatan RI.

Kabar ini disampaikan langsung Juru Bicara Kemenkes RI, dr. Mohammad Syahril. "Pasien suspek cacar monyet di Jawa Tengah hasil PCR menunjukan negatif. Artinya, pasien discarded cacar monyet," kata dr. Syahril melalui pesan singkat ke MNC Portal, baru-baru ini.

Terkait status cacar monyet, disampaikan Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, dr. Retno Asti menjelaskan, karena hingga saat ini kasus cacar monyet tidak ada, itu artinya jika suatu hari kasus ditemukan di satu wilayah, maka wilayah tersebut otomatis ditetapkan sebagai kawasan kejadian luar biasa (KLB).

"Satu saja dikonfirmasi cacar monyet di daerah tertentu, wilayah itu langsung ditetapkan kawasan KLB atau kejadian luar biasa," terang dr. Asti dalam gelaran Webinar Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, belum lama ini.

Jika ini sampai terjadi, langkah pertama yang akan dilakukan adalah memastikan kasus suspek dan probable dari temuan kasus konfirmasi cacar monyet. Langkah ini dilakukan, tujuannya untuk segera memutus penyebaran virus cacar monyet di wilayah tersebut.

Tes laboratorium PCR akan dilakukan kepada orang-orang yang kontak dekat dengan pasien positif terkonfirmasi. Jika dari kontak dekat itu ada yang bergejala, maka mereka akan dikategorikan sebagai suspek dan probable.

"Karantina akan diberlakukan pada kontak dekat yang bergejala selama 21 hari. Kalau hasil laboratoriumnya keluar dan dinyatakan negatif, kontak dekat itu statusnya discarded cacar monyet," imbuh dr. Asti

Semua kejadian kasus harus dilaporkan ke puskesmas, lalu dari puskesmas akan dilanjutkan ke Dinas Kesehatan daerah dan baru diteruskan ke pusat, yang pada akhirnya dilaporkan ke Kementerian Kesehatan.

Laporan dari puskesmas ke dinas kesehatan daerah sudah harus disampaikan kurang dari 1x24 jam setelah kasus diidentifikasi.

Dokter Asti menegaskan, dalam masa identifikasi ini orang-orang yang masuk dalam kontak dekat walau tidak memiliki gejala apa pun, tetap tidak boleh melakukan tindakan medis seperti donor darah hingga donor ASI.

"Selama masa identifikasi kasus, kontak dekat sekalipun tidak bergejala tidak diperkenankan untuk donor darah, sel, organ tubuh, jaringan, ASI, maupun air mani," tandasnya.

1
2