Share

Manfaatkan Teknologi hingga Libatkan Duta Setiap Provinsi, Trik BPOM Berantas Hoaks

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 09 Agustus 2022 12:04 WIB
$detail['images_title']
Kepala BPOM Penny Lukito (Foto: Tangkapan layar Zoom)

INFORMASI hoaks berkembang biak dengan subur di media sosial pada era digital seperti saat ini. Hal ini tentu tidak membawa dampak positif, terlebih dalam memastikan keselamatan dan keamanan masyarakat.

Hoaksnya pun termasuk berita-berita soal obat dan makanan, yang mana dua hal penting dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas.

Situasi ini membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) RI harus punya trik tersendiri dalam memberantas hoaks yang beredar luas, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi hingga melibatkan pemuda-pemudi menjadi duta BPOM di setiap provinsi.

Dengan mengikis hoaks yang beredar di masyarakat, Kepala BPOM Penny K. Lukito meyakini bahwa masyarakat akan menjadi pribadi yang lebih cerdas, unggul, dan tentunya sehat baik fisik maupun mental.

"BPOM ikut serta dalam membangun SDM unggul, baik fisik maupun mental. Bahkan, terlibat aktif dalam memberikan ilmu pengetahuan terkait dengan keamanan dan kualitas produk obat dan makanan," terang Kepala BPOM Penny di acara Dialog Interaktif BPOM secara virtual, Selasa (9/8/2022).

Melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) obat dan makanan, BPOM meyakini bahwa nantinya tujuan akhir dari kegiatan ini, agar membuat masyarakat lebih bijak dalam menggunakan atau membeli obat dan makanan.

"KIE adalah salah satu misi utama kami. KIE hadir untuk merespons hoaks yang ada hingga melakukan intervensi penindakan tegas pada produk ilegal yang ada di pasaran," imbuh Penny.

 BACA JUGA:Hasil Tes PCR Pasien Suspek Cacar Monyet di Jateng, Kemenkes: Negatif

BACA JUGA:Badan POM Tarik Peredaran Es Krim Vanila Haagen-Dazs, Ini Alasannya!

Dengan terus mengedukasi masyarakat dengan melibatkan teknologi digital sebagai medium penyebaran informasi, diharapkan nantinya perubahan perilaku masyarakat bisa berubah. Dari yang tadinya masih membeli produk tidak aman, menjadi sadar untuk menjauhinya, bahkan bersama-sama menghilangkan produk tersebut.

Penny menjelaskan, secara umum masyarakat Indonesia sebetulnya kurang lebih sudah tahu soal obat dan makanan yang baik dan aman. Tapi, perubahan perilaku untuk menjauhi masih belum begitu besar angka persentasenya.

"80 persen masyarakat kita ini sudah paham pengetahuan soal obat dan makanan aman dan sehat, tapi 73,3 persen lainnya masih belum mengubah perilakunya menjadi lebih baik," papar Penny.

Maka dar itu, diperlukan langkah nyata di masyarakat untuk bisa mengubah perilaku warga untuk lebih sadar akan keamanan dan kualitas obat dan makanan.

"Karena itu, memanfaatkan teknologi digital diperlukan untuk menyebarluaskan informasi di masyarakat. Tidak hanya itu, kami juga bekerjasama dengan para Duta BPOM yang ada di setiap provinsi untuk ikut menyuarakan pesan yang ingin disampaikan BPOM ke masyarakat di setiap wilayah,” tandas Penny.

1
2