Share

Kenali Gangguan Stress Pascatrauma (PTSD), Salah Satunya Sering Mimpi Buruk

Cita Zenitha, Jurnalis · Selasa 09 Agustus 2022 11:13 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Gangguan PTSD (Foto: Freepik)

GANGGUAN stress pascatrauma (PTSD) merupakan kesehatan mental yang dialami sebagian orang. PTSD atau  gangguan stres pasca trauma adalah kondisi medis yang dapat terjadi pada siapa saja. Ya, betul, kepada diri kita, orang di sekitar kita pun PTSD dapat terjadi.

Secara statistik, dua puluh persen  yaitu satu dari lima orang  yang mengalami peristiwa traumatis dapat terkena gejala PSTD dengan berbagai tingkatan, mulai yang ringan hingga yang sangat serius.

PTSD adalah salah satu penyebab utama orang depresi hingga melakukan aksi bunuh diri. Inilah pentingnya kenali gejala PTSD sehingga bisa memberikan pertolongan yang tepat bagi orang yang mengalaminya  baik itu diri kita sendiri maupun teman dan keluarga terdekat.

Dilansir psychiatry orang dengan PTSD mengalami depresi terkait dengan pengalaman buruk yang telah terjadi dalam hidupnya. Biasanya akan memutar ingatan tersebut dalam mimpi buruk dan  merasa sedih, marah dan ketakutan yang berlebihan.

Pemicu  Gangguan pasca trauma (PTSD), yang secara langsung menghadirkan kembali ingatan buruk penderita, dapat termasuk bau-bauan, suara dan bunyi, sensasi atau bahkan tanggal kejadian.

Seperti contoh, seseorang yang mengalami kecelakaan lalu lintas fatal pada hari ulang tahunnya, lantas menjadi stres dan mengalami ketakutan saat-saat menjelang sampai tepat di tanggal hari ulang tahun sekaligus tanggal kejadian kecelakaan tersebut.

Atau orang yang pernah hampir tenggelam, akan menjadi histeris bila dihadapkan dengan badan air yang dalam, seperti laut, sungai, danau maupun kolam renang sekalipun.

Selain itu mereka mungkin akan mengisolasi diri atau merasa diisolasi dari orang lain. Penderita PTSD akan menghindari orang atau peristiwa yang berkaitan dengan pengalaman buruk yang mereka alami.

Sementara itu, gangguan Stress pascatrauma (PTSD) juga memiliki beberapa gejala tergantung dari tingkat keparahan orang tersebut. Biasanya, gejala muncul dalam waktu tiga bulan setelah peristiwa traumatis, tetapi terkadang tidak muncul selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Ada empat kategori gejala PTSD yakni perubahan suasana hat, pikiran intrusif, penghindaran terbuat suatu perisitiwa atau objek yang membuatnya trauma dan reaktivitas.

Beberapa, penyebab dari gangguan stress pascatrauma (PTSD) adalah kejadian traumatis yang terjadi seperti perang, bencana alam, pelecehan seksual atau kecelakaan.

Selain itu juga bisa disebabkan karena kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya. Seseorang juga bisa mengalami PTSD turunan dari anggota keluarganya.

Faktor yang sangat berisiko terhadap penderita gangguan stress pascatrauma (PTSD), antara lain tidak mendapat dukungan dari orang terdekat terutama dukungan emosional, pernah mengalami pengalaman buruk seperti bullying, mengkonsumsi obat-obatan dan alkohol, menjalani profesi tertentu seperti tentara atau relawan medis dan memiliki keluarga dengan riwayat PTSD.

Berikut ini pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi gangguan  stress pascatrauma (PTSD):

1. Terapi perilaku kognitif

Terapi ini membantu orang untuk mengatasi ingatan dan emosi menyediakan tentang dirinya, orang lain dan kejadian yang menyakitkan.

2. Terapi Exposure

Membantu seseorang mengelola dan mengendalikan rasa takut dan tertekan dan belajar mengelolanya.

Terapi Inokulasi Stres: Ini bertujuan untuk membekali individu dengan keterampilan koping yang diperlukan untuk melindungi diri mereka dari stres dengan memaparkan mereka pada stres  tingkat rendah.

Selain terapi juga dilakukan tindakan medis dengan mengkonsumsi obat-obatan seperti antidepresan, anti cemas dan prazosin.

(RIN)

1
4