Share

Studi Penelitian Sebut Kotoran Tinja Orang Sehat Bisa Jadi Pengobatan Diabetes

Astri Lawrensia, Jurnalis · Selasa 09 Agustus 2022 08:00 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi diabetes, (Foto: Freepik)

DIABETES atau sering disebut penyakit gula merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang familiar bagi masyarakat Indonesia.

Berbagai pengobatan untuk penyakit ini dimulai dari obat -obatan hingga perawatan medis. Kendati demikian, dari masa ke masa para ilmuwan tetap berusaha menemukan dan mengembangkan pengobatan yang lebih efektif lagi untuk penyakit ini.

Salah satunya, lewat studi penelitian terbaru satu ini yang menyebut bahwa kotoran orang sehat bisa menyembuhkan diabetes. Tidak hanya itu, bahkan disebutkan juga berpotensi untuk mengobati berbagai kondisi usus, mulai dari obesitas hingga IBS (sindrom iritasi usus), seperti dikutip NewsWeek, Selasa (9/8/2022).

Studi dilakukan melalui eksperimen yang dilakukan oleh tim peneliti AS ini, menggunakan organisme mikroskopis yang ditransplantasikan ke tikus yang melibatkan rekayasa bakteri E.coli dari sampel kotoran tinja.

Para peneliti pertama-tama, mengumpulkan sampel tinja dari inang dan mengekstrak E. coli untuk modifikasi lebih lanjut. Selanjutnya, tim peneliti mengumpulkan E.coli dari mikrobioma usus manusia dan tikus dan kemudian menambahkan protein yang disebut BSH (hidrolase garam empedu).

Tambahan protein ini membuatnya lebih kuat dan mampu hidup di lingkungan usus yang tidak bersahabat untuk waktu yang cukup lama. BSH inilah yang disebut Profesor Amir Zarrinpar dari University of California sekaligus penulis senior studi, maksud dengan "pahlawan super”. 

Hal tersebut dilakukan karena eksperimen ini memiliki tantangan tersendiri dalam prosesnya, memerlukan proses modifikasi bakteri asli agar bertahan dalam usus dengan mempertimbangkan banyak faktor.

"Ini adalah tantangan bagi bakteri yang belum pernah hidup di dalam mamalia sebelumnya, yang untuk sekarang harus masuk ke mikrobioma usus dengan semua kondisi yang tidak bersahabat. Hal ini memerlukan usaha untuk mencegah penyerbu bakteri menguasainya,” kata Profesor Amir.

Namun, kondisi tersebut mampu ditangani dengan temuan dan eksperimen yang dilakukan. Profesor Amir. Bakteri yang direkayasa dengan dimasukkan gen bermanfaat maka berpotensi menghasilkan obat-obatan dan menyembuhkan penyakit.

 BACA JUGA: Bagi Penderita Diabetes, Alat Ini Bisa Bantu Kurangi Kadar Gula pada Nasi

BACA JUGA:Studi: Infeksi Covid-19 Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

"Kami telah merekayasa bakteri ini untuk menjadi pabrik yang dapat hidup di mikrobioma kami, dan berpotensi menghasilkan obat-obatan. Kami tahu E. coli dapat mengambil gen patogen dan menyebabkan penyakit, dan sekarang kami baru menyadari kalau memasukkan gen yang bermanfaat, itu dapat membantu kita untuk mengobati penyakit kronis, bahkan mungkin menyembuhkan beberapa di antaranya,” lanjut Profesor Amir.

Studi yang diterbitkan di jurnal Cell tersebut menunjukkan bahwa, bakteri rekayasa itu mampu mempengaruhi perkembangan diabetes secara positif pada tikus (sebagai bahan percobaan).

Metode ini, disebut jadi peningkatan yang signifikan jika dibandingkan perawatan serupa dengan strain bakteri rekayasa laboratorium non-asli yang sering memerlukan lebih dari satu perawatan dan bakteri tidak tinggal di usus inang, sekonsisten metode E. coli asli yang diidentifikasi oleh Profesor Amir dan tim.

Selain berhasil mempengaruhi diabetes pada tikus, Profesor Amir dan tim juga mampu membuat modifikasi serupa dengan E. coli yang diekstraksi dari usus manusia.

Data menunjukkan memasukkan gen ke dalam bakteri asli memiliki tingkat keberhasilan sekitar 100 kali lipat lebih rendah daripada melakukannya dengan strain laboratorium. Tetapi para peneliti mengoptimalkan prosesnya dengan menggunakan teknologi, tujuannya untuk menemukan cara mengobati lebih banyak penyakit.

“Ada banyak alat rekayasa genetika baru yang tersedia sekarang, ini akan memungkinkan kita untuk merekayasa bakteri ini secara lebih efektif. Teknologi ini adalah sesuatu yang berpotensi membuka penerapan terapi mikrobioma untuk mempengaruhi begitu banyak penyakit kronis dan genetik yang berbeda” tutup Profesor Amir.

1
3