Share

Cegah Stunting, Orangtua Perlu Dapat Edukasi Gizi yang Memadai

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Jum'at 05 Agustus 2022 20:59 WIB
$detail['images_title']
Edukasi makanan bergizi (Foto: Food beverage inside)

UPAYA menurunkan angka stunting dan gizi buruk masih menjadi pekerjaan rumah yang seharusnya menjadi prioritas pemerintah saat ini. Pasalnya. Presiden Joko Widodo menargetkan penurunan hingga dibawah 14 persen pada tahun 2024.

Sementara, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4%.

 anak stunting

Berbagai strategi nasional telah ditetapkan pemerintah sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan Peraturan Presiden No 72 tentang Percepatan Penurunan Stunting dengan target penurunan hingga 14 persen pada 2024.

Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga telah menjalankan sejumlah program seperti Bapak Asuh, Dapur Sehat, Pendampingan Calon Pengantin, Kelas Pengasuhan Bina Keluarga Balita (BKB).

Meski demikian, upaya-upaya pencegahan stunting berupa edukasi gizi yang menyasar langsung ke masyarakat perlu terus-menerus di lakukan.

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Indonesia (YAICI) Arif Hidayat mendorong agar pemerintah dapat menyelenggarakan program-program untuk pencegahan stunting dengan melihat akar permasalahannya.

“Indonesia ini luas, dengan banyak kultur dan budaya yang berbeda. Setiap daerah juga memiliki karakteristik dan permasalahan yang berbeda. Karena itu langkah-langkah penanganan stunting sebaiknya dilakukan dengan melihat akar permasalahan masyarakat setempat,” jelas Arif.

Lebih lanjut, Arif mengatakan hal mendasar yang perlu dilakukan adalah memastikan masyarakat teredukasi dan paham mengenai pentingnya gizi yang tepat untuk anak. Pihaknya sejak lama melakukan edukasi gizi dan memiliki perhatian terhadap persoalan stunting dan gizi buruk.

Terlebih, dengan mencuatnya polemik susu kental manis (SKM) yang membuat BPOM akhirnya mengatur penggunaan produk dengan kandungan gula yang tinggi ini ke dalam PerBPOM No 31 tahun 2018 tentang Label dan Pangan Olahan.

Dalam kebijakan tersebut, terdapat dua pasal yang menjelaskan bahwa SKM merupakan produk yang tidak boleh dijadikan sebagai pengganti ASI dan dikonsumsi oleh anak diawah 12 bulan. Sebab SKM tidak banyak mengandung gizi, lebih banyak mengandung gula. Padahal untuk mencegah stunting, harus dilakukan bersama-sama antara orangtua dan berbagai pihak lainnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak, IPDA dr. Harun Akbar M.Kes SpA mengatakan, orangtua menjadi sosok utama terhadap pemenuhan gizi seorang anak. Pemenuhan gizi yang baik dapat mencegah terjadinya stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis.

“Kekurangan gizi bisa terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Kondisi stunting baru terlihat setelah bayi berusia dua tahun,” ujar Dokter Harun.

 BACA JUGA:Menko PMK: Cegah Bayi Stunting Harus Dimulai dari Remaja Putri

Dokter Harun melanjutkan, untuk mencegah stunting, saat periode MPASI, orangtua perlu memperhatikan kandungan makanan yang diolah dengan mencukupi asupan protein hewani, lemak, dan mikronutrien.

(DRM)