Share

Waspada! Satu Dekade Terakhir, Makanan dan Minuman 36 Persen Jadi Lebih Manis

Tangguh Yudha, Jurnalis · Jum'at 05 Agustus 2022 09:00 WIB
$detail['images_title']
makanan manis, (Foto: Freepik)

MAKANAN dan minuman manis, tidak dipungkiri memang jadi favorit banyak orang. Tidak hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa.

Apalagi saat ini, seiring perkembangan pesat dunia kuliner, ragam makanan dan minuman manis sangat mudah ditemukan.

Namun, di balik kelezatan makanan dan minuman manis ini, ada bahaya kesehatan yang mengintai. Bahaya makanan dan minuman manis sendiri berkaitan dengan obesitas, diabetes tipe 2, serta kerusakan gigi.

Terlebih saat ini para produsen makanan atau minuman, biasanya menggunakan pemanis non-nutrisi untuk berbagai produk yang dibuat. Pemanis ini mengandung sedikit atau tanpa kilojoule dan termasuk pemanis buatan, seperti aspartam, dan yang berasal dari sumber alami, seperti stevia.

Sejatinya, makanan dan minuman manis harus diperhatikan jumlah asupannya. Apalagi saat ini, menurut studi penelitian terbaru ternyata makanan dan minuman menjadi semakin bertambah manis.

Penelitian tersebut, memperlihatkan jumlah gula tambahan dan pemanis non-nutrisi dalam makanan dan minuman kemasan telah meningkat pesat selama satu dekade terakhir. Terutama di negara-negara berpenghasilan menengah, seperti India serta di Asia Pasifik, termasuk Australia, mengutip Science Alert, Jumat (5/8/2022).

Para peneliti melakukan penelitian tersebut dengan menggunakan data penjualan pasar dari seluruh dunia. Dari sini bisa dilacak jumlah gula tambahan dan pemanis non-gizi yang dijual dalam makanan dan minuman kemasan dari tahun 2007 hingga 2019.

Hasilnya, tim peneliti menemukan volume pemanis non-nutrisi per orang dalam minuman sekarang 36 persen lebih tinggi secara global. sementara gula yang ditambahkan dalam makanan kemasan, 9 persen lebih tinggi.

Disebutkan lebih lanjut, es krim dan biskuit manis adalah kategori makanan yang volume pemanisnya tumbuh paling pesat. Meningkatnya penggunaan gula tambahan dan pemanis lainnya selama satu dekade terakhir ini, mengartikan secara keseluruhan pasokan makanan kemasan di pasaran yang notabene kita konsumsi memang semakin manis.

Selain memang dapat membahayakan kesehatan, pemanis non-nutrisi tertentu dianggap sebagai kontaminan lingkungan dan tidak dapat dihilangkan secara efektif dari air limbah.

Sebagai upaya untuk mengurangi bahaya kesehatan dari asupan gula tambahan yang tinggi, memang sejauh ini banyak negara telah bertindak untuk membatasi penggunaan dan konsumsi gula di masyarakat. Contohnya retribusi gula, kampanye pendidikan, pembatasan iklan, dan pelabelan adalah sebagian di antaranya. Namun sayangnya memang belum efektif.

 BACA JUGA:TikTokers Pakai Pewarna Makanan sebagai Lipstik, Aman atau Bahaya?

BACA JUGA:Bolehkah si Kecil Konsumsi Minuman Kemasan Dingin?

1
2