Share

Begini Cara Mengobati Cacar Monyet

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Kamis 04 Agustus 2022 19:09 WIB
$detail['images_title']
Cacar monyet merebak di sejumlah negara (Foto: IOL)

GUBERNUR Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, pintu masuk ke Indonesia harus diperketat. Tindakan ini perlu dilakukan guna mencegah penularan wabah cacar monyet.

"Kita berharap pemerintah pusat menjaga ketat pintu masuk ke Indonesia. Upaya tersebut diperlukan untuk mengantisipasi wabah cacar monyet yang muncul di sejumlah negara asing," kata Ganjar.

 cacar monyet

Wabah cacar monyet atau Monkeypox, kata Ganjar, juga menjadi perhatian di wilayahnya. “Kita masih pantau terus sampai hari ini. Kemarin ada yang bercirikan seperti itu, tapi masih didalami.”

Suspek cacar monyet memang sudah masuk ke Indonesia. Namun kita perlu menghadapinya dengan tenang.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya dr. Dhelya Widasmara mengungkapkan, jika memang ada orang yang terpapar virus cacar monyet, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah memisahkan pasien dari orang lain yang beresiko terinfeksi. Hal ini menjadi langkah pertama yang harus dilakukan.

Kemudian Dokter Dhelya meminta pasien cacar monyet untuk beristirahat total sambil makan makanan yang bergizi, dengan memaksimalkan meminum cairan, terutama air putih.

"Bila demam dapat diberikan obat penurun panas. Bila muncul ruam seperti lentingan berisi air, jangan digaruk atau dipecah. Untuk mengurangi rasa gatal, dapat dikompres dengan kassa dan cairan infus serta mengkonsumsi obat antihistamin," jelasnya.

 BACA JUGA:IDI Bentuk Satgas Cacar Monyet Untuk Cegah Penularan di Indonesia

Sedangkan orang yang harus dipertimbangkan untuk perawatan lebih lanjut yaitu orang dengan gejala berat atau parah misalnya, sepsis, ensefalitis, atau kondisi lain yang memerlukan rawat inap.

Dokter Dhelya juga mengingatkan golongan yang beresiko tinggi terkena gejala berat dari penderita cacar monyet, yakni orang dengan kondisi immunocompromiseisalnya, infeksi HIV/AIDS leukemia, limfoma, keganasan, transplantasi organ, konsumsi kortikosteroid dosis tinggi, atau memiliki penyakit autoimun), kemudian anak-anak yang berusia di bawah 8 tahun, perempuan hamil atau menyusui.

"Lalu orang dengan satu atau lebih komplikasi penyakit, misalnya, infeksi kulit bakteri sekunder, gastroenteritis dengan mual atau muntah yang parah, diare, atau dehidrasi; bronkopneumonia, penyakit bersamaan atau komorbiditas lainnya," pungkasnya.

1
2