Share

Muncul Kasus Suspek Cacar Monyet di Jateng, Ketua Satgas Covid-19 IDI: Jangan Anggap Remeh

Astri Lawrensia, Jurnalis · Kamis 04 Agustus 2022 16:02 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto: Freepik)

RABU 3 Agustus lalu, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) baru saja mengumumkan satu kasus suspek cacar monyet, yang terdeteksi di Jawa Tengah.

Menurut keterangan Juru Bicara Kemenkes, dr. Syahril, pasien suspek berjenis kelamin laki-laki tersebut kini tengah menjalani pemeriksaan dan perawatan di salah rumah sakit di Jawa Tengah.

Menanggapi kabar sudah ada kasus suspek cacar monyet di Indonesia ini, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Profesor Zubairi Djoerban, meminta agar pemerintah dan masyarakat Indonesia bisa menjadikan kasus suspek ini sebagai pembelajaran.

Ia menghimbau agar semua pihak, tidak menganggap remeh wabah infeksi cacar monyet.

“Meski suspek cacar monyet di Jateng belum pasti statusnya, saya harap Indonesia tak anggap enteng seperti awal Covid-19,” bunyi cuitan Prof Zubairi, dikutip dari akun Twitter @ProfesorZubairi, Kamis (4/8/2022).

 BACA JUGA:Suspek Cacar Monyet di Jateng, Dokter Sebut Sudah Ada 3 Obatnya!

BACA JUGA:1 Warga di Jateng Suspek Cacar Monyet, Jubir Kemenkes: Pasien Bukan Pelaku Perjalanan Luar Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Belajar dari kasus Covid-19, Profesor Zubairi menuturkan saat ini seluruh masyarakat butuh waspada level tinggi. Tujuannya, agar penyakit cacar monyet ini jangan sampai menjadi wabah di Tanah Air.

“Yang diperlukan adalah kewaspadaan tinggi untuk menghindari penyebaran lebih lanjut dan risiko kematian--karena tubuh masing-masing orang bereaksi berbeda,” tambahnya.

Zubairi juga menegaskan bahwa penyebaran virus cacar monyet memiliki pola yang hampir sama dengan penyebaran infeksi Covid-19.

Maka dari itu, masyarakat sebaiknya tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta tetap menjaga protokol kesehatan yang berlaku.

“Cacar monyet menyebar melalui droplet, kontak ruam, keropeng, cairan tubuh, dan kain seperti tempat tidur atau pakaian. Secara global sudah ada 26 ribu kasus lebih yang terkonfirmasi di berbagai negara dan yang paling banyak adalah Amerika Serikat dengan kasus lebih dari 6000 ,” tutup Profesor Zubairi.

1
2