Share

Studi: Konsumsi Suplemen Vitamin D Tidak Membuat Risiko Patah Tulang Berkurang

Astri Lawrensia, Jurnalis · Kamis 04 Agustus 2022 11:37 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi suplemen vitamin, (Foto: Freepik)

SEIRING dengan pertambahan usia, semakin berumur biasanya banyak orang mengonsumsi suplemen vitamin demi menunjang kesehatan tubuh.

Nah, vitamin D jadi salah satu jenis vitamin yang paling populer dikonsumsi untuk kesehatan tulang agar tidak keropos di usia lanjut. Namun tampaknya, konsumsi suplemen vitamin D saja tidaklah cukup untuk terhindar dari risiko patah tulang.

Pasalnya, menurut suatu penelitian terbaru, mengungkapkan bahwa mengonsumsi suplemen vitamin D setiap hari ternyata tidak cukup berpengaruh pada risiko seseorang menderita patah tulang.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Harvard Medical School, Boston, menemukan bahwa orang yang mengonsumsi suplemen vitamin D tidak lebih kecil kemungkinannya untuk menderita patah tulang dibandingkan orang yang tidak mengonsumsi suplemen vitamin D tersebut, dikutip dari DailyMail, Kamis (4/8/2022).

Hasil studi yang diterbitkan di New England Journal of Medicine tersebut, meneliti sekitar 26.000 orang peserta dari populasi umum. POengujian dilakukan kepada ribuan peserta yang memiliki kadar vitamin D rendah dengan kelompok usia rata-rata 67 tahun dan sekitar 20 persen di antaranya adalah orang kulit hitam, yang kemungkinan lebih berisiko mengalami kadar vitamin D rendah karena warna kulit yang lebih gelap mengurangi jumlah sinar matahari yang diserap tubuh.

Dalam penelitian tersebut, partisipan diberi pil vitamin D3 untuk diminum setiap hari dan kemudian dipantau selama lima tahun serta diinterogasi setiap tahun untuk mengetahui apakah mereka masih meminum pil atau telah mengalami patah tulang.

Setengah dari peserta studi mengonsumsi suplemen yang mengandung hingga 800 unit internasional (IUs) vitamin D yang merupakan batas atas asupan harian yang direkomendasikan dan sisanya lagi diberikan dengan plasebo. 

Hasilnya? Kelompok orang yang mendapat vitamin D, 769 dari 12.927 (6 persen) peserta tetap mengalami patah tulang, dan kelompok yang menerima plasebo, 782 dari 12.944 di antaranya juga mengalami patah tulang atau setara juga dengan 6 persen. Kebanyakan patah tulang yang dialami terjadi pada area panggul, pergelangan tangan, pinggul dan di daerah lain.

Dokter Meryl LeBoff, ahli kesehatan tulang yang memimpin penelitian, menyebutkan merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan, terlihat bahwa suplemen vitamin D3 tidak cukup berpengaruh pada risiko patah tulang

“Suplemen vitamin D3 tidak membuat risiko patah tulang jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan plasebo di antara orang dewasa paruh baya dan orang dewasa yang umumnya sehat.' tulis Dr. Meryl LeBoff.

Temuan di atas, didukung juga oleh hasil temuan yang ditulis Dr. Steven Cummings, ahli osteoporosis terkemuka di University of California, San Fransisco, yang mengatakan bahwa masyarakat dan harus menghentikan anggapan bahwa suplemen vitamin D saja sudah cukup bisa mencegah patah tulang.

“Layanan kesehatan harus berhenti merekomendasikan suplemen vitamin D, dan orang harus berhenti mengonsumsi suplemen vitamin D untuk mencegah penyakit utama mereka atau demi untuk memperpanjang hidup,” katanya.

Sebagai informasi, penelitian ini merupakan penelitian terkontrol acak besar pertama yang menyelidiki efek konsumsi suplemen vitamin D.

 BACA JUGA:Studi: Infeksi Covid-19 Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

BACA JUGA:Studi: Disfungsi Ereksi hingga Rambut Rontok Termasuk Gejala Long Covid

1
2