Share

Di Tengah Pandemi, Pakar Bedah Saraf Ingatkan Bahaya Stroke

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Selasa 02 Agustus 2022 20:58 WIB
$detail['images_title']
Bahaya serangan stroke (Foto: Lompoc valey medical center)

MASYARAKAT diminta tak lengah di tengah pandemi, sebab terdapat penyakit yang membahayakan jiwa selain Covid-19. Penyakit itu termasuk stroke maupun tumor otak.

Pakar Bedah Saraf Siloam Hospitals Prof. Dr. dr. Eka Wahjoepramono, Sp.BS(K), Ph.D menjelaskan, tren penyakit stroke semakin meningkat sementara kasus Covid-19 semakin menurun. Oleh karena itu, para dokter spesialis di Indonesia Timur, khususnya NTT harus rajin melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk mengoptimalkan citra MRI yang ada, sekaligus menjadi tindakan preventif bagi masyarakat agar tidak terkena kanker otak dan stroke.

stroke

"Masyarakat juga jangan takut check up kesehatan, karena tumor otak ukuran kecil akan jauh lebih mudah diangkat dibanding sudah membesar. Jadi jangan biarkan diri terkena stroke, namun rajinlah periksa kesehatan dan jaga pola makan," ujar Prof Dr dr Eka J Wahjoepramono, Sp.BS, Ph.D saat memberikan pendidikan terkait kesehatan otak di NTT.

Ia juga menerangkan, saat ini di NTT sudah memiliki 2 unit alat kateterisasi untuk tindakan Digital Subtraction Angiography (DSA), yakni alat atau teknik yang dipakai untuk menggambar pembuluh darah dengan menyemprotkan zat kontras (Iodine) agar bisa dideteksi alat X-ray melalui film. Tetapi alat tersebut belum digunakan, padahal sudah banyak dokter spesialis di NTT.

"Jika masyarakat NTT terkena penyakit kanker otak dan tumor, dokter dari Jakarta yang didatangkan ke NTT, bukan pasien yang ke Jakarta. Ini menghemat biaya dan ada transfer pengetahuan kepada para dokter dan perawat di NTT," kata Prof Dr dr Eka J Wahjoepramono, Sp.BS, Ph.D.

Ketika bicara tentang dunia medis orang akan lebih memilih pergi ke Singapura, Malaysia dan lainnya. Namun selama ini, Prof Eka telah menunjukan kepada dunia internasional bahwa Indonesia lebih dari mampu untuk bedah tumor otak, kanker dan penyakit otak lainnya.

(DRM)