Share

5 Rekomendasi IDI untuk Tenaga Kesehatan Dalam Menangani Cacar Monyet

Kevi Laras, Jurnalis · Selasa 02 Agustus 2022 21:01 WIB
$detail['images_title']
Cacar monyet merebak di sejumlah negara (Foto: CNA)

IKATAN Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan sejumlah rekomendasi terhadap tenaga kesehatan, dalam menangani monkeypox atau cacar monyet. Hal tersebut disampaikan oleh dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Hanny Nilasari dalam media briefing virtual IDI bersama sejumlah organisasi profesi.

Dalam penjelasannya, dr Hanny mengatakan, dari setiap ikatan dokter telah membuat sejumlah poin apa saja yang perlu diperhatikan, bagi para tenaga kesehatan. Ketika menangani pasien cacar monyet.

 cacar monyet

Berikut 5 poin rekomendasi kepada tenaga kesehatan, antara lain:

1. Segera laporkan ke Dinas Kesehatan setempat apabila terdapat kasus sesuai dengan kriteria suspek atau probable cacar monyet.

2. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan klinis dalam pendekatan diagnosis serta tatalaksana cacar monyet, tingkatkan kewaspadaan pada pasien dengan gejala klinis sesuai dengan cacar monyet dan mencegah komplikasi.

 BACA JUGA:Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin: Cacar Monyet Bukan Penyakit Seksual

3. Melakukan edukasi terhadap masyarakat mengenai tanda gejala penularan dan pencegahan infeksi cacar monyet.

4. Mendukung dilakukan contact racing apabila ada kasus dengan konfirmasi cacar monyet untuk menurunkan resiko penyebaran infeksi cacar monyet.

5. Tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap ketika menangani pasien dengan kecurigaan cacar monyet, seperti mengenakan masker serta membersihkan benda dan permukaan yang telah disentuh pasien.

Sekedar informasi, cacar monyet belum dapat dipastikan sebagai penyakit seksual. Sebab sejauh ini terjadi karena adanya kontak erat, seperti sentuhan fisik.

"Cacar monyet bukan penyakit yang masuk ke dalam penyakit seksual tetapi penyakit kontak erat ya. Jadi karena kontak eratnya yang terinfeksi dengan cacar monyet kontak dengan kulit, seksual atau oral menjadi transmisi penularan," imbuh Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dr. dr. Prasetyadi Mawardi, Sp.KK (K).

"Jadi sampai saat ini belum dipastikan sebagai penyakit seksual yang menular," jelasnya.

1
2