Share

Tragis, 14 Ribu Bayi di Indonesia Meninggal Akibat Kelainan Jantung Bawaan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 27 Juli 2022 10:51 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi bayi (Foto: Pixabay)

KONDISI kelainan jantung bawaan yang terjadi pada bayi-bayi di Indonesia, tidak boleh dianggap remeh. Pasalnya, angka kematian pada bayi baru lahir akibat mengalami kelainan jantung bawaan ini nyatanya sangat tinggi.

Disampaikan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin tercatat dari data Rumah Sakit Harapan Kita, menunjukkan bahwa ada 14 ribu bayi meninggal akibat kelainan jantung bawaan atau congenital heart disease di Indonesia.

"Aku sedih, baru dengar cerita dari RS Harapan Kita yang melaporkan setiap tahunnya 50 ribu bayi lahir dengan kelainan jantung bawaan, 14 ribu di antaranya meninggal dunia akibat tidak tertangani dengan maksimal," ungkap Menkes Budi saat ditemui di Jakarta,baru-baru ini. 

Mirisnya, dari 50 ribu bayi yang lahir dengan kelainan jantung bawaan itu 40 persen di antaranya memerlukan tindakan bedah jantung untuk mempertahankan kehidupannya. Jika tidak dilakukan pembedahan, bayi-bayi tersebut kebanyakan meninggal tiga tahun kemudian.

"Jadi, sebanyak 20 ribu bayi setiap tahunnya itu membutuhkan bedah jantung terbuka untuk memperbaiki jantungnya. Kalau tidak, ya, mereka meninggal dunia 3 tahun setelahnya," ungkap Menkes Budi sedih.

Melihat kenyataan di lapangan, Menkes Budi menegaskan kendala banyak rumah sakit kekurangan dokter yang bisa bedah jantung terbuka untuk anak, sehingga mengakibatkan banyak nyawa bayi yang melayang ini harus segera dituntaskan.

"We need to do something seriously, karena kalau tidak, akan terus ada bayi yang meninggal," tegasnya.

Sebagai informasi, jika mengacu pada standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) satu orang dokter harusnya menangani 1000 orang pasien, sedangkan Indonesia jumlah dokter yang ada, diperkirakan baru 120 ribu orang. Artinya, masih kurang 150 ribu dokter dari 270 ribu dokter yang dibutuhkan di Indonesia.

Maka dari itu, sebagai salah satu upaya mempercepat lahirnya dokter-dokter di negeri ini, Kemenkes diketahui baru-baru ini memberikan kesempatan bagi para dokter maupun dokter gigi yang ingin berkontribusi bagi pembangunan kesehatan di Tanah Air dengan membuka Program Bantuan Pendidikan (PBP), bekerja sama dengan Kementerian Keuangan.

Hal ini sejalan dengan Surat Edaran Nomor HK.02.021/I/1050/2022 tentang Rekrutmen Program Bantuan Pendidikan Dokter Spesialis - Dokter Gigi Spesialis Angkatan XXIX dan Dokter Subspesialis Angkatan XI Kemenkes RI Tahun 2022.

1
2