Share

Peneliti Ungkap ASI Jadi Obat Alami Covid-19, Bahkan untuk Orang Dewasa

Kevi Laras, Jurnalis · Jum'at 22 Juli 2022 10:16 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi ASI. (Foto: Shutterstock)

ANAK-ANAK memang menjadi salah satu kelompok yang rentan jika terpapar Covid-19. Sayangnya tidak semua anak-anak bisa mendapatkan vaksin Covid-19, apalagi anak bayi yang baru lahir.

Lantas, bagaimana pengobatan bayi yang baru lahir jika terpapar Covid-19? Nah, tim ilmuwan dari Brazil mengungkapkan pengobatan yang paling manjur adalah dengan memberikan Air Susu Ibu atau dikenal sebagai ASI. Tapi yang mengejutkan, pengobatan dengan ASI ternyata tidak hanya untuk anak bayi saja loh

Dalam penemuannya dikatakan bahwa ada pasien wanita dengan Covid-19 yang terus-menerus dites positif, selama sekitar empat bulan. Wanita tersebut menderita penyakit genetik langka, membuat sistem kekebalan tubuhnya tidak mampu melawan virus dan patogen lainnya.

Pasien wanita itu, didiagnosis dengan Covid-19 pada Maret 2021 dan terus dites positif selama 124 hari dengan RT-PCR. Melansir dari The Health Site, tim ilmuwan dari Universitas Campinas (UNICAMP) di Sao Paulo, menyarankannya untuk mengonsumsi 30 mililiter ASI setiap tiga jam selama seminggu.

Setelah mengonsumsi ASI selama seminggu, tingkat kekebalannya membaik, dan dites negatif untuk Covid-19. Dijelaskan bahwa ASI diterimanya dari seorang wanita yang telah divaksinasi SARS-CoV-2. Kasus ini dilaporkan dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam jurnal Viruses.

Menurut para peneliti, ASI mengandung antibodi IgA yang menetralkan patogen. Dimana sistem kekebalan pada manusia dan mamalia lain biasanya menghasilkan lima jenis antibodi imunoglobulin: IgM, IgG, IgA, IgE dan IgD.

Dalam hal ini, pasien diminta untuk mengambil susu secara oral dan menyimpannya di mulutnya selama beberapa menit. Dengan interval tiga jam antara dosis, kecuali pada malam hari.

Lalu para ahli menjelaskan bahwa IgA menempel pada patogen di seluruh saluran pencernaan, memastikan bahwa apa pun yang tidak pantas dihilangkan dalam tinja. Akhirnya wanita itu dites negatif setelah seminggu, dan dua kali lagi dengan interval 10 hari, kata peneliti.

1
2