Share

Mau Lanjut Operasi Kulit, Apa Penyebab Kecanduan Operasi Plastik Seperti Lucinta Luna?

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Rabu 13 Juli 2022 14:54 WIB
$detail['images_title']
Lucinta Luna sering operasi plastik (Foto: Inst)

LUCINTA Luna diketahui baru-baru ini menjalani operasi jakun, tak lama kemudian ia juga operasi tulang ekor.

Selanjutnya Si Ratu Manjalita ingin bentuk bibirnya mirip member BLACKPINK, Jisoo. Hal itu diungkapkan melalui akun Instagramnya.

“Jisoo, bibir impianku,” tulis dia dalam Instagram Storynya."

Lucinta Luna

Bahkan sekarang mengaku ia akan menjalani operasi ganti kulit. Ia berkeinginan operasi ganti kulit.

"Belum nak, ini operasi kedua. Nanti step ketiga, terakhir operasi ganti kulit," jawab Lucinta.

Waduh, rupanya Lucinta Luna kecanduan operasi plastik. Ia selalu ingin makin sempurna sehingga operasi tiada habisnya.

Sukses mengubah wajahnya jadi makin cantik, bahkan dia mengklaim mirip Lisa BLACKPINK. Namun ia masih saja tak pernah puas bahkan terkesan kecanduan melakukan operasi plastik.

Banyak kepercayaan di masyarakat bahwa sekali Anda melakukan operasi plastik atau oplas, maka Anda akan ketagihan menjajal oplas untuk area tubuh lainnya dan ini sepertinya terjadi pada Lucinta Luna.

Lalu, mengapa seseorang bisa kecanduan operasi plastik?

Laman Rejuvenus Aesthetics menjelaskan bahwa ketika seseorang sudah kecanduan operasi plastik, mereka sejatinya mengalami gangguan mental yang disebut Body Dysmorphic Disorder.

Masalah tersebut tidak hanya memengaruhi pribadi si penderita, tapi juga kehidupan sosial dan profesionalnya.

"Orang yang mengalami gangguan mental ini cenderung terobsesi dengan detail atau ketidaksempurnaan yang nyaris tidak terlihat, bahkan tidak diperhatikan orang lain," kata dr Wilberto Cortes, ahli bedah yang secara khusus menangani operasi plastik.

"Mereka yang mengalami masalah Body Dysmorphic Disorder merasa seluruh hidupnya bergantung pada perbaikan ketidaksempurnaan yang tidak terlihat itu dan sering memilih untuk jalani tindakan berisiko seperti operasi plastik," tambah dr Cortes.

Secara sederhana, orang dengan gangguan mental ini tidak pernah puas dengan tubuhnya sendiri.

Padahal, apa yang ada di tubuh ini sudah merupakan kesempurnaan yang tidak bisa ditandingi, sekalipun oleh ahli bedah yang tidak akan bisa sempurna menciptakan tangan atau telinga.

"Sayangnya, seseorang dengan gangguan ini kerap memilih 'jalan' yang merugikan diri mereka sendiri, termasuk mencoba solusi ilegal asal ketidaksempurnaan yang menurutnya mengganggu bisa diperbaiki," kata dr Cortes.

Bahkan, pada banyak kasus orang dengan Body Dysmorphic Disorder rela melakukan operasi plastik berkali-kali di area yang sama sampai dirinya mereka sempurna menurut versinya sendiri.

"Kecanduan operasi plastik sama merusaknya dengan pasien kecanduan lain. Penting bagi ahli bedah, pun anggota keluarga dan teman-teman penderita untuk menasihati agar mencari bantuan dan konseling ke profesional," sarannya.

"Ingat, semakin banyak tindakan operasi plastik yang dikerjakan di satu area khususnya, itu malah meningkatkan hasil gagal," tambah dr Cortes.

1
2