Share

Marshanda Comeback, Siapa Saja yang Berisiko Terkena Gangguan Bipolar?

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Rabu 13 Juli 2022 05:00 WIB
$detail['images_title']
Marshanda comeback (Foto: inst)

SEMPAT dikabarkan hilang di Los Angeles, Amerika Serikat, kini artis cantik Marshanda kembali muncul alias comeback.

Marshanda memberikan kabar terbarunya lewat Instagram-nya. "Gue gak hilang, itu fiktif saja, gak benar."

 Marshanda

"Gue baik-baik saja. Dan untuk yang bilang gue Bipolar, tanya saja sama yang paling ngurusin gue, bukan yang berasa paling ngurusin gue," ujarnya.

Meski Marshanda mengidap Bipolar, namun kondisinya baik-baik saja saat ini.

Sementara itu dr Jap Mustopo B SpKJ dari Rumah Sakit Mayapada, Tangerang menjelaskan, para penderita bipolar perasaan senang dan sedih muncul secara tidak menentu. Ini bisa berlangsung tiba-tiba.

Bipolar itu sendiri adalah gangguan afektif bipolar. Mood atau keadaan emosi internal merupakan penyebab utama dari gangguan ini.

Lalu, siapa saja orang yang berisiko terkena gangguan Bipolar?

Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap penyakit bipolar. Faktor genetik dianggap berperan dalam gangguan bipolar karena kondisi ini cenderung diwariskan dalam keluarga. Jika orangtua atau saudara kandung mengalami gangguan ini, maka Anda memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalaminya.

Selain itu orang yang berisiko kena Bipolar juga orang yang pernah mengalami bullying, pernah mendapatkan kekerasan seksual yang menimbulkan trauma.

Orang dengan depresi musiman, atau punya gangguan kecemasan juga lebih berisiko mengalami bipolar.

 BACA JUGA:Marshanda Buka Suara Usai Dikabarkan Hilang: Terima Kasih yang Sudah Khawatir

Lalu bagaimana penanganan Bipolar?

Sebelum melakukan penanganan terhadap gangguan bipolar, biasanya terlebih dahulu dilakukan diagnosa dengan memperhatikan secara seksama gejala, tingkat ketakutan, angka waktu, dan frekuensi. Dan gejala yang paling mudah untuk dikenali adalah gejala peralihan mood yang tinggi (dari yang tinggi ke rendah) yang tidak berpolar.

Gangguan bipolar ini merupakan gangguan jangka panjang yang membutuhkan penanganan komprehensif. Mereka yang memiliki empat atau lebih perubahan mood dalam setahun lebih sulit untuk ditangani.

Menurut dr Jap, seorang pasien yang mengalami gangguan bipolar bisa sembuh. Dalam empat fase itu pasien bisa menjalankan terapi. Tapi jika tak berhasil atau mebahayakan, diperlukan penanganan khusus di rumah sakit khusus atau tempat rehabilitasi mental. Biasanya psikoterapi berupa terapi perilaku-kognitif menjadi pilihan," ungkapnya.

1
2