Share

Waspada! Ini 5 Masalah yang Muncul Jika Jarak Kelahiran Anak di Bawah 2 Tahun

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 05 Juli 2022 07:00 WIB
$detail['images_title']
Jarak kehamilan perlu diperhitungkan, (Foto: Freepik)

JARAK kelahiran antara satu anak dengan anak yang lain penting untuk diperhitungkan dan dipertimbangkan.

Pasalnya, tahukah Anda jika jarak kelahiran anak dengan anak yang lain di bawah dua tahun, seperti dituturkan Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Obstetri dan Ginekologi Sosial, Prof. Dwiana Ocviyanti, SpOG(K) akan ada masalah serius bagi ibu dan anak, yang bisa timbul jika jarak kehamilan tidak diperhatikan

"Jarak kelahiran yang terlalu pendek, kurang dari dua tahun, sangat tidak disarankan. Sebab, si ibu punya risiko kematian, anak yang ada di luar kandungan kurang dapat hak kesehatan optimal, pun anak yang ada di kandungan," terang Prof. Ovi.

Lebih detailnya, berikut uraian lima masalah kesehatan yang muncul jika jarak kelahiran antar anak di bawah dua tahun, sebagaimana dijelaskan Prof. Ovi dalam gelaran di Webinar Tentang Anak X BKKBN, baru-baru ini.

1. Ibu tidak recovery optimal : Jika ibu sudah hamil lagi di bawah rentang dua tahun, artinya ibu tidak recovery secara optimal. Ini akan sangat merugikan, bahkan bisa mengancam nyawa. Proses melahirkan itu artinya banyak darah yang keluar dari tubuh ibu. Ditambah ibu juga akan kurang tidur karena perlu recovery tubuh paska persalinan, dan masih ditambah lagi harus menjaga anak. Kondisi tersebut meningkatkan risiko ibu mengalami anemia. Jika sampai mengalami anemia dalam keadaan hamil, bisa berisiko tinggi alami keguguran, persalinan prematur, serta pertumbuhan janin terhambat.

"Saat persalinan, akan ada kesulitan yang terjadi. Perdarahan yang banyak juga mungkin terjadi dan ini berisiko kematian," tambah Prof Ovi.

2. Mengurangi hak ASI anak: Saat si ibu sudah hamil lagi saat anak belum berusia lebih dari 2 tahun yang artinya masih membutuhkan ASI, kesempatan hak ASI anak yang lain menjadi berkurang. Itu terjadi karena ibu tidak bisa secara maksimal memberikan waktu untuk menyalurkan ASI ke anak. Ini akan berdampak pada pertumbuhan anak yang ada di luar kandungan.

3. Mengurangi hak perawatan tumbuh kembang anak: Sebab, perhatian ibu akan terpecah pada anak yang di luar dan dalam kandungan. Anak yang di luar masih terlalu kecil untuk dilepas, sedangkan ibu juga perlu menjaga bayi yang ada di kandungan.

"Makanya, banyak kasus anak lebih rewel karena ibunya yang sedang hamil tidak memberi perhatian lebih," terang Prof. Ovi. Pada contoh kasus lainnya, anak yang lebih tua masih minta gendong, tapi karena ibu sedang hamil jadi tidak bisa menggendong sang anak. Alhasil, kesetaraan sejahtera bagi anak di luar dan dalam kandungan tidak didapatkan.

4. Pertumbuhan janin bisa tak optimal: Hal ini akibat ibu perlu membagi peran untuk anak di dalam dan luar kandungan, besar kemungkinannya ibu tidak membuat anak yang di dalam kandungan tumbuh optimal. Inilah mengapa risiko stunting menjadi lebih tinggi, akibat ibu juga mesti fokus merawat dan menjaga anaknya yang lain.

5. Ibu tidak sehat: Orang tua harus tahu, ibu yang tidak sehat akan menentukan juga kesehatan anak di dalam dan luar kandungan. Misalnya, karena ibu tidak sehat, anak yang tidak bisa mendapat perhatian itu, sesederhana bermain bersama. Lalu, karena ibu sakit, itu akan memberi dampak langsung pada janin di dalam kandungan. Maka dari itu, agar mengatur jarak kelahiran. Jika merujuk pada standar Badan Kesehatan Dunia (WHO), jaraknya adalah 2,9 tahun.

Sedangkan BKKBN sendiri menyarankan, agar memberi jarak kelahiran itu minimal 3 tahun. Ini diharapkan orang tua sudah bisa memberikan perhatian pada anaknya yang lain secara baik. “ Artinya, setelah anak pertama berusia 3 tahun, orang tua baru mulai merencanakan kehamilan berikutnya," pungkas Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, Eni Gustina.

BACA JUGA:Bumil, Mudah Capek Saat Hamil Jangan Dianggap Sepele Ya!

BACA JUGA:5 Hal yang Tidak Diperbolehkan untuk Ibu Hamil, Apa Saja?

1
2