Share

Kasus Covid-19 Terus Naik, Ahli Epidemiolog Minta Perusahaan Terapkan WFH Hingga Akhir Tahun

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 04 Juli 2022 11:42 WIB
$detail['images_title']
WFH (Foto: Freepik)

BEBERAPA pekan belakangan ini angka kasus positif Covid-19 terus naik, bahkan selalu menembus 1000 kasus.

Kondisi ini, jika dilihat dari kacamata ahli kesehatan, seharusnya sudah menjadi sinyal bahwa aktivitas masyarakat di luar, contohnya bekerja normal di kantor sebaiknya mulai dikurangi untuk meminimalisir penularan.

Seperti disampaikan Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman. Ia meminta kepada perusahaan khususnya, untuk kembali menerapkan work from home (WFH).

Menurut Dicky, WFH dianggap bisa jadi salah satu aksi nyata meminimalisir berkumpulnya orang di satu tempat. Ini juga tentu bisa menurunkan risiko penyebaran virus antar satu orang ke orang lainnya di satu tempat.

"WFH menurut saya harus diterapkan lagi, setidaknya sampai akhir tahun ini," kata Dicky saat dihubungi MNC Portal, Senin (4/7/2022).

Jika dirasa sulit, Dicky menyarankan agar setidaknya penerapan WFH diberlakukan bergilir. Jadi, tetap ada upaya pencegahan penularan Covid-19 bagi perusahaan kepada karyawan-karyawannya.

"Kalau dirasa susah untuk full WFH, maka bisa diterapkan sistem bergilir dan dicoba 20 persen WFH," sarannya.

 BACA JUGA:Sakit Kepala Jadi Gejala yang Mendominasi Gelombang Varian Baru

BACA JUGA:Alami Cacat Genetik Parah, Bayi Hasil Pasangan Inses Ini Meninggal Usai 2 Jam Dilahirkan

Dicky menambahkan, WFH sangat dianjurkan pada perusahaan-perusahaan yang kantornya rawan penularan. Artinya, kondisi kantor dengan sistem ventilasinya buruk atau masih banyak karyawan di dalam kantor yang belum divaksin booster.

Dikhawatirkan kasus positif semaki akan meningkat tajam, jika tidak dilakukan intervensi pencegahan yang maksimal, termasuk dilakukan oleh para pihak perusahaan.

"WFH harus dijalankan saat ini," tegas Dicky.

Sebagai informasi, dari data Kementerian Kesehatan, per 1 Juli 2022 kasus Covid-19 harian sempat tercatat sebanyak 2049 dan cakupan vaksin booster Indonesia sampai sekarang baru mencapai 24,50 persen.

1
2