Share

Studi: Cara Memegang Pulpen Bisa Jadi Indikator Risiko Penyakit Alzheimer

Pradita Ananda, Jurnalis · Sabtu 02 Juli 2022 08:00 WIB
$detail['images_title']
Cara memegang pulpen, indikator risiko Alzheimer (Foto: Alamy Stock Photo)

SETIAP orang memiliki cara dan bentuk tersendiri dalam memegang pulpen saat menulis. Well, siapa sangka ternyata cara kita menggenggam pulpen ini ternyata bisa dikaitkan dengan suatu penyakit.

Ya, dari suatu studi penelitian dari Universitas of Tsukuba, Jepang menemukan bahwa bagaimana cara kita memegang pena atau pulpen bisa menunjukkan risiko Alzheimer pada orang tersebut, seperti dilapor Ny Post, Sabtu (2/7/2022).

Studi penelitian digelar dengan melibatkan 144 orang dengan berbagai tingkat kemampuan kognitif, termasuk di dalamnya beberapa orang dengan demensia dan beberapa orang lainnya yang benar-benar sehat.

Setiap peserta menjalani lima tes menggambar berbeda yang mengukur 22 fitur menggambar. Dari sini bisa dilihat tekanan pulpen, postur pulpen, kecepatan dan seberapa sering orang tersebut berhenti menggerakkan pulpen, stop menggambar.

Para peneliti kemudian membandingkan fitur-fitur ini dan menggunakan program berbasis komputer untuk melihat seberapa baik ciri-ciri gambar bisa digunakan untuk mengidentifikasi orang dengan atau tanpa kognisi normal.

Para peneliti kemudian bisa melihat orang-orang dengan mild cognitive impairment (MCI) atau Azlheimer berdasarkan gaya gambar para peserta penelitian. 

Hasilnya, beberapa orang terlihat mengalami gangguan kognitif ringan (MCI), yaitu ketika seseorang mengalami kehilangan ingatan yang sedikit lebih buruk daripada penuaan tetapi tidak separah demensia, sehingga masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari memperlihatkan ada beberapa garis halus dan kuat.

Sedangkan kelompok yang lain menujukkan genggaman yang lemah, goyah dan berhenti lebih lama dan lebih lambat dalam memegang pulpen dan menggambar.

Disebutkan, persentase keakuratan dari lima tes bersama-sama untuk mendeteksi orang yang menderita Alzheimer ini mencapai 75,2 persen secara keseluruhan.

Profesor Tetsuaki Arai, penulis senior studi ini mengatakan, meski pun jelas bahwa sifat menggambar yang berhubungan dengan gerakan dan jeda bisa digunakan untuk menyaring gangguan kognitif, tetapi ia menilai sebagian besar tes tersebut tetap relatif tidak akurat.

BACA JUGA:Travis Barker Masuk Rumah Sakit Diduga karena Pankreatitis, Apa Gejalanya?

BACA JUGA:Travis Barker Sakit Pankreatitis, Siapa Saja yang Berpotensi Kena?

Maka dari itu, ia dan tim mencoba melihat dengan metode memegang pulpen.

“Kami bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi jika kami menganalisis sifat-sifat ini, dengan orang melakukan berbagai tugas menggambar yang berbeda. Akurasi klasifikasi tiga kelompok dari kelima tes adalah 75,2 persen, yang hampir 10 persen lebih baik daripada melakukan tes sendiri,” ujar Prof. Tetsuaki.

Alzheimer merupakan bentuk paling umum dari demensia, yang menyebabkan seseorang bisa perlahan-lahan kehilangan ingatannya dan juga hilangnya kemampuan diri untuk melakukan tugas sehari-hari, misalnya sesederhana mengikat tali sepatu atau sekedar menyebutkan waktu.

Penyakit Alzheimer mempengaruhi sekitar satu dari 14 orang di atas usia 65 tahun dan satu dari setiap enam orang di atas usia 80 tahun. Perlu diingat bahwa Alzheimer bukan bagian normal dari proses penuaan.

1
3