Share

Cara Mengobati Asma agar Tidak Sering Kambuh

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 30 Juni 2022 19:10 WIB
$detail['images_title']
Cara mengobati asma agar tidak sering kambuh (Foto: Healthline)

Rencana Penanganan Asma

Dokter akan memandu Anda untuk membuat jurnal penanganan asma individual. Di dalamnya terdapat informasi mengenai obat-obatan yang dikonsumsi, bagaimana cara memonitor kondisi, dan apa yang harus dilakukan apabila terjadi serangan asma. Sebaiknya, rencana penanganan ini ditinjau ulang setidaknya satu kali dalam setahun. Jika gejala asma memburuk, peninjauan harus dilakukan lebih sering.

Salah satu informasi yang harus Anda catat di dalam jurnal adalah hasil dari pemeriksaan peak flow meter. Jadi, Anda akan disarankan untuk membelinya. Dengan demikian, Anda dapat memantau kondisi asma sehingga dapat memprediksi serangan asma dan mengambil langkah penanganan yang diperlukan.

Obat-obatan Asma yang Disarankan

Selain penanganan dengan inhaler, obat asma kadang juga diperlukan dalam rencana pengobatan, misalnya:

1. Tablet theophilline. Umumnya, obat asma diberikan untuk membantu melebarkan saluran pernapasan dengan melemaskan otot-otot di sekelilingnya. Efek samping dari obat ini antara lain mual, sakit kepala, muntah, dan gangguan perut.

2. Tablet leukotriene receptor antagonist (montelukast). Obat asma jenis ini dikonsumsi satu kali sehari untuk mencegah radang di dalam saluran pernapasan. Obat as,a ini digunakan untuk mencegah gejala asma. Efek sampingnya antara lain gangguan perut atau sakit kepala.

Steroid Oral

Jika asma Anda masih belum dapat dikendalikan, dokter mungkin akan menyarankan untuk mengonsumsi tablet steroid. Obat ini dapat meredakan radang yang terjadi di dalam saluran pernapasan.

Dokter spesialis paru akan memantau penggunaan obat ini karena jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan berefek samping pada pengeroposan tulang, hipertensi, diabetes, otot melemah, kulit menipis, dan nafsu makan meningkat. Efek samping yang lebih serius adalah katarak atau glaukoma.

Biasanya dokter hanya akan memberikan obat untuk jangka waktu pendek sebagai obat tambahan menangani infeksi lain. Setelahnya, pasien akan kembali ke rencana pengobatan sebelumnya.

(hel)