Share

Cara Mengobati Asma agar Tidak Sering Kambuh

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 30 Juni 2022 19:10 WIB
$detail['images_title']
Cara mengobati asma agar tidak sering kambuh (Foto: Healthline)

CARA mengobati asma agar tidak sering kambuh penting untuk Anda ketahui. Karena, penyakit asma bisa sewaktu-waktu menimbulkan dampak yang berbahaya bagi kesehatan.

Dikutip dari Klikdokter, asma adalah penyakit jangka panjang pada saluran pernapasan yang ditandai dengan penyempitan dan peradangan saluran napas. Akibatnya timbul rasa sesak dan kesulitan bernapas. Gejala lain dari asma adalah nyeri dada, batuk, dan mengi.

Saluran pernapasan penderita asma cenderung lebih sensitif ketimbang yang tidak mengidapnya. Itulah sebabnya saat paru-paru penderita asma teriritasi salah satu pemicu, otot pernapasan akan menjadi kaku dan saluran napas pun menyempit. Beberapa pemicunya antara lain asap rokok, terpapar zat kimia, bulu binatang, atau bahkan udara dingin.

Cara Mengobati Asma agar Tidak Sering Kambuh

(Cara Mengobati Asma agar Tidak Sering Kambuh, Foto: Healthline)

WHO mengestimasi sekitar 235 juta populasi dunia adalah penderita asma. Menurut data dari Riset Data Kesehatan Departemen Kesehatan Indonesia 2013, penderita asma di Indonesia adalah 4.5 persen dari keseluruhan penduduk. Prevalensi asma tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah sebanyak 7.8 persen diikuti Nusa Tenggara Timur 7.3 persen, DI Yogyakarta 6.9 persen, dan Sulawesi Selatan 6.7 persen.

Asma bisa menyerang siapa pun dan tidak bisa disembuhkan. Namun penanganan yang tepat dapat mengontrol serangan dan penderita bisa menikmati hidup berkualitas. Apabila Anda mengidap asma sejak kecil, gejalanya bisa saja menghilang saat beranjak remaja dan muncul kembali di usia dewasa. Namun, gejala asma dengan kategori menengah dan berat di masa kecil akan cenderung tetap ada. Asma dapat muncul pada usia berapa pun, tidak selalu berawal dari masa kecil.

Lantas bagaimana pengobatan asma?

Pengobatan asma memiliki dua tujuan, yaitu meredakan gejala dan mencegah gejala kambuh. Tentunya pengobatan asma harus disesuaikan dengan hasil diagnosis dokter dan kondisi penderita.

BACA JUGA : 6 Cara Mengatasi Asma di Malam Hari Tanpa Perlu ke Dokter

BACA JUGA : Apa Gejala Awal Penyakit Asma? Yuk Pelajari

Pengobatan asma antara lain:

- Menghindari pemicu munculnya gejala

- Menggunakan inhaler pereda : digunakan untuk mengatasi gejala asma jangka pendek dengan membuat saluran pernapasan rileks.

- Penggunaan inhaler pencegah : digunakan rutin setiap hari untuk mengurangi radang pada saluran pernapasan dan mencegah gejala asma kambuh.

- Penggunaan inhaler kombinasi pencegah dan pereda : digunakan setiap hari agar mencegah timbulnya gejala asma serta membuat saluran pernapasan rileks dalam jangka waktu lebih lama.

Rencana Penanganan Asma

Dokter akan memandu Anda untuk membuat jurnal penanganan asma individual. Di dalamnya terdapat informasi mengenai obat-obatan yang dikonsumsi, bagaimana cara memonitor kondisi, dan apa yang harus dilakukan apabila terjadi serangan asma. Sebaiknya, rencana penanganan ini ditinjau ulang setidaknya satu kali dalam setahun. Jika gejala asma memburuk, peninjauan harus dilakukan lebih sering.

Salah satu informasi yang harus Anda catat di dalam jurnal adalah hasil dari pemeriksaan peak flow meter. Jadi, Anda akan disarankan untuk membelinya. Dengan demikian, Anda dapat memantau kondisi asma sehingga dapat memprediksi serangan asma dan mengambil langkah penanganan yang diperlukan.

Obat-obatan Asma yang Disarankan

Selain penanganan dengan inhaler, obat asma kadang juga diperlukan dalam rencana pengobatan, misalnya:

1. Tablet theophilline. Umumnya, obat asma diberikan untuk membantu melebarkan saluran pernapasan dengan melemaskan otot-otot di sekelilingnya. Efek samping dari obat ini antara lain mual, sakit kepala, muntah, dan gangguan perut.

2. Tablet leukotriene receptor antagonist (montelukast). Obat asma jenis ini dikonsumsi satu kali sehari untuk mencegah radang di dalam saluran pernapasan. Obat as,a ini digunakan untuk mencegah gejala asma. Efek sampingnya antara lain gangguan perut atau sakit kepala.

Steroid Oral

Jika asma Anda masih belum dapat dikendalikan, dokter mungkin akan menyarankan untuk mengonsumsi tablet steroid. Obat ini dapat meredakan radang yang terjadi di dalam saluran pernapasan.

Dokter spesialis paru akan memantau penggunaan obat ini karena jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan berefek samping pada pengeroposan tulang, hipertensi, diabetes, otot melemah, kulit menipis, dan nafsu makan meningkat. Efek samping yang lebih serius adalah katarak atau glaukoma.

Biasanya dokter hanya akan memberikan obat untuk jangka waktu pendek sebagai obat tambahan menangani infeksi lain. Setelahnya, pasien akan kembali ke rencana pengobatan sebelumnya.

1
2