Share

Raisa dan Anya Geraldine Bakal Tanding Bulu Tangkis, Apa Saja Risiko Cederanya?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 30 Juni 2022 12:20 WIB
$detail['images_title']
Raisa dan Anya (Foto: Tangkapan layar Youtube VINDES)

RAISA dan Anya Geraldine bakal bertanding bulu tangkis melawan pasangan Hesti Purwadinata dan Erika Carlina di perhelatan Tepok Bulu 2022 pada 3 Juli 2022.

Olahraga bulu tangkis memang seru dan menyenangkan, tapi ingat olahraga ini sama halnya dengan jenis cabang olahraga lain yang juga punya risiko cedera di dalamnya.

Disampaikan, Spesialis Kedokteran Olahraga RS, dr Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO, memang ada beberapa risiko cedera yang mungkin terjadi dalam olahraga bulu tangkis. Mengingat olahraga kecintaan masyarakat Indonesia ini, butuh kekuatan sendi dan koordinasi motorik.

"Olahraga ini dipenuhi gerakan kompleks sesuai dengan tempo permainannya. Selain itu, pemain bulu tangkis juga memerlukan stamina yang kuat, kelincahan, kecepatan, ketepatan, kekuatan otot, dan koordinasi motorik sendi dan otot yang baik," terang dr. Antonius dalam keterangan tertulisnya, Kamis (30/6/2022).

Itu kenapa, sambungnya, jika pemain bulu tangkis tidak berhati-hati, ada risiko cedera otot, sendi, ligamen, hingga tendon. Makanya, penting untuk berlatih sebelum melakukan olahraga ini, termasuk mengenali tubuh sendiri untuk meminimalisir risiko.

Apa saja beberapa jenis cedera yang mungkin terjadi? Berikut ulasan enam jenis cedera yang mungkin terjadi saat main bulu tangkis, sebagaimana dipaparkan dr. Antonius, Kamis (30/6/2022).

1. Cedera bahu: Menurut dr. Antonius, penyebab cedera bahu adalah gerakan overhead atau mengayun yang cepat dan berulang. Tipe cedera bahu pada pemain bulu tangkis adalah overuse injury, disebabkan karena gerakan sendi bahu yang berulang. "Kondisi ini akan menyebabkan otot-otot bahu kelelahan dan mengakibatkan stabilitas sendi bahu menurun. Tendonitis rotator cuff atau tendinopathy adalah kondisi cedera bahu tersering pada pemain bulu tangkis," terangnya.

2. Cedera ankle: Penyebab cedera ankle atau sering disebut ankle sprain (pergelangan kaki terkilir) adalah akibat gerakan-gerakan berubah arah dalam waktu yang cepat serta gerakan melompat dan mendarat saat melakukan jumping smash. Faktor risiko cedera pergelangan kaki bisa berasal dari internal dan eksternal. Faktor internal misalnya, kelelahan saat bermain sehingga membuat keseimbangan menjadi terganggu dan pergelangan kaki kemudian terkilir. Sedangkan faktor eksternal biasanya disebabkan karena kondisi lapangan yang licin atau karena penggunaan sepatu yang tidak tepat sehingga membuat cedera pada ankle.

3. Cedera lutut: Paling sering terjadi pada olahraga bulu tangkis adalah cedera jumper’s knee atau patella tendinitis yang diakibatkan gerakan melompat dan mendarat berulang dan gerakan lunges yang berulang. "Gerakan melompat dan mendarat serta gerakan lunges memberikan beban yang cukup besar pada tendon sendi lutut sehingga menyebabkan cedera lutut," ujar dokter dari RS Pondok Indah Bintaro tersebut. Selain cedera pada tendon lutut, cedera ligamen lutut dan bantalan lutut juga sering dilaporkan di beberapa jurnal ilmiah, yaitu cedera ACL dan meniskus. Cedera ini sering disebabkan karena gerakan berputar dari lutut saat bermain bulu tangkis.

4. Cedera punggung: Ini juga sering terjadi pada pemain bulu tangkis, hal ini dapat terjadi akibat beberapa gerakan menerjang dan merunduk pada saat bermain bulu tangkis. Kelemahan otot punggung merupakan salah satu faktor risiko dari cedera lower back pain pada permainan bulu tangkis.

BACA JUGA: TAG Golden Child Sempat Sakit Liver, Kenali Penyebabnya

BACA JUGA:Viral Pesan Terakhir Atlet Taekwondo yang Disebut Sakit Asam Lambung, Apa Penyebabnya?

5. Cedera siku: Cedera pada siku dapat terjadi, kata dr. Antonius, karena beban pada otot yang berlebihan dan terus-menerus selama memegang raket, sehingga menimbulkan peradangan pada otot siku.

6. Cedera kram otot: Cedera kram otot biasanya terjadi akibat olahraga tanpa melakukan pemanasan dan peregangan otot. Kram otot bisa terjadi di bagian tubuh manapun, tapi kram yang paling sering biasanya muncul di kaki. "Saat kram terjadi, otot akan mengalami kontraksi dan bagian tubuh yang mengalami kram akan sulit digerakkan selama beberapa detik atau bahkan beberapa menit," pungkas dr. Antonius

1
3