Share

Studi: Ketiduran Saat Nonton TV Bisa Picu Kematian Lebih Cepat

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 29 Juni 2022 20:44 WIB
$detail['images_title']
Ketiduran saat menonton TV (Foto: Freepik)

BANYAK orang yang jatuh tertidur, tidak sengaja ketiduran saat menonton televisi (TV) setiap harinya. Bahkan biasanya momen ketiduran seperti ini, dirasa sebagai tidur yang enak karena nyenyak.

Terkait kebiasaan ketiduran di depan TV ini, ternyata punya dampak fatal untuk kesehatan. Pasalnya, dari studi penelitian terbaru mendapati bahwa ketiduran setiap malam di depan TV bisa berkontribusi pada kematian yang lebih cepat, mengutip NY Post, Rabu (29/6/2022).

Studi penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern tersebut, meneliti dampak cahaya sekitar terhadap kesehatan dan kebiasaan tidur dari 552 orang antara usia 63 dan 84 tahun.

Hasilnya, didapati bahwa orang-orang yang tidur dengan pencahayaan ambient sekecil apa pun lebih berpeluang menderita diabetes, obesitas, dan hipertensi. Peneliti utama studi, Phyllis Zee menyarankan orang-orang sebaiknya tidur dengan meminimalkan paparan cahaya.

"Orang-orang harus melakukan yang terbaik untuk menghindari atau meminimalkan jumlah cahaya yang mereka hadapi saat tidur," kata Phyllis Zee.

Menurut penelitian, resistensi insulin lebih mungkin terjadi di pagi hari setelah orang tidur di ruangan dengan pencahayaan redup, seperti yang dipancarkan oleh TV.

Resistensi insulin, yakni ketika terjadinya sel-sel di otot, lemak, dan hati yang tidak merespon insulin dengan baik ini, menurut keterangan American Family Physician umumnya dikaitkan dengan berbagai penyakit tidak menular tapi mematikan seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

Data studi penelitian menunjukkan 17,8 persen peserta penelitian yang tidur malam hari dengan cahaya di sekelilingnya menderita diabetes. Sebaliknya, orang-orang yang tidur dalam kondisi gelap gulita, persentasenya hanya 9,8 persen.

Sementara itu, 40,7 persen peserta yang tidur dengan paparan cahaya didapati mengalami obesitas. Sedangkan, peserta yang tertidur dalam kegelapan hanya 26,7 persen yang mengalami obesitas.

Disebutkan pula, orang-orang yang tidur terpapar cahaya di sekilingnya ini lebih mungkin untuk terjaga alias begadang. Kondisi inilah yang akhirnya berisiko tinggi kepada gangguan kardiovaskular dan metabolisme.

"Kita tahu orang yang suka tidur larut malam cenderung juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan kardiovaskular dan metabolisme," pungkas Phyllis.

1
3